Ini adalah cerita sambungan dari posting terdahulu.
Cukup banyak yang terjadi tentunya di Kampung Tapos ini. Bayangkan saja rentang waktunya dari tahun 1996 hingga tahun 2012. Tentu tak cukup sebuah posting untuk menceritakan apa yang terjadi dalam waktu 16 tahun. Untuk mempersingkat posting ini, saya hanya akan mengabarkan situasi terbaru di sana.
Dalam gambaran sepintas, situasi Tapos rasanya tak jauh berbeda dengan situasi 16 tahun lalu. Warga kampung yang merasa miskin atau memang benar-benar miskin masih ada. Mereka juga masih hidup sebagai “petani tanggung”. Maksud saya berprofesi sebagai petani, namun tidak cukup berdaulat terhadap sarana penunjang produksi pertanian seperti lahan pertanian. Sebagian besar lahan garapan dimiliki oleh “orang-orang kota”. Saya harap Anda tidak bertanya tentang konflik sosial yang terjadi, karena saya merasa belum cukup paham dan punya pengalaman di bidang sosial maupun budaya. Mungkin saja ada masalah itu, namun saya tak berani berkomentar .... hehehe, takut salah.
Dari penuturan seorang sahabat yang tinggal di Tapos, saya banyak mendengar tentang permasalahan yang muncul saat ini. Namun setidaknya saya hanya mampu menangkap beberapa hal saja. Itupun saya rasa tidak terlalu lengkap dan dalam informasinya. Beberapa hal itu adalah ...
Beberapa tahun terakhir, telah berdiri sebuah sekolah informal di Tapos. Bentuknya adalah pendidikan anak usia dini, atau biasa disebut PAUD. Pendirian sekolah ini dimotori oleh Telapak. Sayangnya kini kondisinya tak cukup baik, bahkan bisa disebut tidak berkembang. Para pengajarnya, yang direkrut dari orang asli Tapos mengeluh kesulitan dalam mengembangkannya. Bahkan, sembari bergurau salah seorang pengajarnya menyebut kata “kondisinya memprihatinkan”. Walau saya tak sempat mencari tahu lebih dalam maksud dari kata itu, namun yang tersirat di benak saya adalah mereka butuh teman dan butuh bantuan. Teman seperti apa dan bantuan seperti apa, tentu harus dicari tahu lebih dalam.
Di kampung ini pernah berdiri sebuah kelompok tani yang cukup masyhur namanya di seantero Kecamatan Cijeruk. Namanya Kelompok Tani Lindung Harapan. Sayangnya kini kelompok tersebut terkesan hidup enggan mati tak hendak. Semoga saya salah duga, karena yang terlihat dari kelompok ini hanya tinggal papan nama saja.
Saya mendapat kabar bahwa warga Tapos saat ini juga mengalami masalah dengan ketersediaan air. Bahkan sempat terjadi beberapa kali perseteruan antar warga soal pembagian air dari bak penampungan. Saya menduga hal ini terjadi karena kemarau panjang yang melanda akhir2 ini. Namun saya mendengar cerita tentang meningkatnya aktivitas penambangan pasir di anak2 sungai. Saya juga mendengar kabar munculnya para pebisnis air minum di Desa Sukaharja dan sekitarnya. Jangan2 aktivitas mereka2 itu juga berpengaruh pada minimnya ketersediaan air di Tapos.
Demikian beberapa kilas cerita pandangan mata dan cerita teman tentang Kabar Kampung Tapos. Semoga saja cerita ini tidak hanya jadi bacaan sepintas, namun bisa mengilhami sebuah keinginan yang kemudian menjadi tindakan nyata untuk membantu warga Tapos. Amiiin ...
Senin, 15 Oktober 2012
Apa kabar Tapos? (bagian 2 - habis)
Jumat, 12 Oktober 2012
Apa kabar Tapos? (bagian 1)
Saya harap membaca nama “Tapos” tak lantas menggiring Anda semua pada peternakan sapi milik keluarga Cendana. Tapos yang ini berbeda jauh letaknya, walau masih dalam satu wilayah Kabupaten Bogor.
Seperti yang tertera di judul, sebenarnya saya juga punya pertanyaan yang sama. Rasanya sudah cukup lama saya (secara pribadi) tak pernah berkunjung ke tempat ini lagi. Padahal kalau diingat-ingat kampung kecil di kaki Gunung Salak ini memiliki arti tersendiri bagi bagi organisasi maupun saya sendiri. Kampung ini berada di sebuah desa, yaitu di Desa Sukaharja, Kecamatan Cijeruk.
Cukup banyak kejadian dan kegiatan penting Telapak terjadi di kampung ini sejak tahun 1996. Dua tahun kemudian keluarga saya pun berkenalan dengan Kampung Tapos, saat beberapa orang warga Tapos hadir di pernikahan saya dengan membawa bingkisan pisang dan hasil bumi.
Selain dekat secara emosional, kampung ini pun tidak jauh jangkauannya dari Bogor. Bila ditarik garis lurus di atas peta, maka jaraknya dari Bogor hanya sekitar 12 km saja. Bila kita menggunakan kendaraan umum, maka Tapos dapat ditempuh dalam waktu (paling lama 2 jam) dari pusat Kota Bogor. Begitu mudahnya hingga saya lebih menyukai menggunakan sepeda motor untuk mencapai Tapos.
Secara kebetulan saya mampu memaksa diri dan meluangkan waktu di sela kesibukan kerja untuk (kembali) berkunjung ke Tapos. Pada saat yang sama, seorang teman ternyata juga memiliki keinginan untuk berkunjung ke Tapos. Klop sudah ... kami berdua kembali datang ke Tapos pada hari Kamis, 11 Oktober 2012. Sayangnya kami berdua tak memiliki kemewahan waktu untuk bisa berlama-lama di kampung ini. Datang di pagi hari dan selepas adzan dzuhur kami pun meluncur pulang ke tempat kerja masing-masing di Bogor.
Lalu apa yang terjadi dengan Kampung Tapos sekarang ini?
Sabar bos ... ojo kesusu [kalau kata orang Jawa]. Ceritanya saya sengaja simpan untuk posting selanjutnya yaa ....
[BERSAMBUNG]
Senin, 08 Oktober 2012
Duet Onte dan Een: Merajut Awal Sebuah Perubahan di ASTEKI
Perubahan dalam dunia media yang berjalan sangat cepat, tentunya harus disikapi dengan keberanian untuk menghadapi tantangan perubahan yang ada. Perubahan teknologi, regulasi, persaingan dan preferensi audiensi harus dicermati bukan dihindari. Berbicara tentang media, maka akan merujuk kepada penyedia konten, pengelolaan institusi yang profesional dan kemampuan dalam meraih audiens. Ditengah tantangan tersebut, ASTEKI sebagai wadah asosiasi bersatunya media kerakyatan hadir untuk menjawab hal tersebut.
Rabu, 4 Oktober 2012, di pinggir Samudra Hindia, di sebuah ruangan rapat di pantai berpasir putih Bengkulu, siang itu pimpinan sidang, Pendoks membacakan hasil keputusan tentang siapa nahkoda organisasi ini tiga tahun kedepan.
“Kami telah rapat diantara anggota dan memutuskan ketua ASTEKI adalah Onte dan wakil ketua Een”. Wajah-wajah bersambut berganti tepuk tangan para peserta, diantara kelegaan para pimpinan televisi, kantor berita, mitra kerja, termasuk wajah Sekjen AMAN yang telah mengikuti pertemuan Mubes ASTEKI ini dua hari seutuhnya.
Perubahan ini tentu adalah keniscayaan. Dalam tiga tahun kedepan, mandat ASTEKI akan bertambah. Pertemuan Mubes dua hari ini (3-4 Oktober 2012), telah menggarisbawahi bahwa ASTEKI siap berubah untuk mengantisipasi dinamika. Termasuk: 1) Mengubah nama ASTEKI menjadi Asosiasi Televisi dan Media Kerakyatan, penambahan Media disini memberi ketegasan bahwa ASTEKI akan bergerak dalam multiplatform elektronik untuk mengantisipasi perubahan yang terjadi di luar, 2) Membangun konsep “peoples centered media”sebagai fondasi ASTEKI dalam membangun media kerakyatan melalu jurnalisme warga, 3) Menyiapkan kerjasama dengan para pihak agar tagline ASTEKI “suara yang tidak tersuarakan” dapat dilakukan secara multiplatform, 4) Memberikan layanan yang lebih baik kepada anggota dalam bidang informasi, peluang dan perbaikan manajemen.
Tantangan ini tentunya, akan menjadi prioritas kerja bagi duet tua muda, Onte dan Een dalam periode kepengurusan ini. Dengan pengalaman Onte dan keenerjikan dari Een, ASTEKI serta Telapak (keduanya kader Telapak) akan banyak menyandarkan diri kepada kapasitas kalian berdua. Bravo, selamat bekerja. Sukses selalu.
Ridzki R. Sigit
Mantan Ketua ASTEKI
periode 2008-2011 Selengkapnya ...
Senin, 02 April 2012
Wetan dan Kulon gagas Ekspedisi Capung
Pertemuan antar kawan dekat atau saudara memang terasa seru dan mengasyikkan. Terlebih jika pertemuan itu berisikan obrolan ringan dan canda-tawa. Suasana guyub alias akrab jadi terasa sekali. Sesekali bahkan juga muncul ide2 segar di sela canda-tawa.
Siang itu, menjelang waktu sholat Jum’at, serombongan saudara jauh datang berkunjung ke Pesanggarahan Jawa Kulon. Mereka datang dari bagian timur Pulau Jawa. Mereka adalah panglima dan punggawa Pesanggarahan Jawa Wetan. Rupanya mereka sedang mengikuti sebuah acara di Bogor, lalu menyempatkan diri untuk melakukan kunjungan resmi ke Jawa Kulon. Tak pelak para punggawa Jawa Kulon pun bergegas menyiapkan ruang tamunya. Kopi dan makan siang jelas tak boleh lupa dihidangkan untuk para tamu agung ini. Kereta kencana pinjaman dari laskar karung KPC juga disiapkan untuk mengantar para tamu ini saat meninggalkan Pesanggarahan Jawa Kulon. Maklum ini adalah kunjungan resmi kenegaraan antar badan teritorial ... hehehe.
Beberapa jam yg singkat di sela waktu sholat Jum’at dan makan siang terasa penuh. Rasanya hampir semua kata saling kami lakukan bersama. Saling cela, saling ejek, saling singgung, dan tentu juga saling puji dan saling lempar ide bersama. Mungkin hanya saling tendang, saling pukul dan saling bunuh yg tidak kami lakukan ... hehehe. Obrolan ringan ini berkisar antara suasana seputar MUBES/RA Telapak, kabar teman, aktivitas terkini, dan ide2 segar.
Salah satu ide segar yg sempat terlontar secara serius adalah “Ekspedisi Capung dan Situs Budaya Jawa”. Rupanya saat ini tlatah Jawa Wetan sedang terkena demam serangga air. Beberapa orang di tlatah Jawa Kulon pun sedang gemar berbasah diri dengan air sungai. Sementara itu, para pendekar Telapak di kedua ujung Jawa ini kerap kali tak sengaja bersentuhan dengan cerita sejarah dan budaya lokal. Ketika hal-hal itu lalu disatukan, maka muncul lah ide melacak sejarah air dan budaya di Pulau Jawa. Capung lalu dianggap sebagai jalan masuk yang menarik bagi upaya ini.
Capung adalah jenis serangga yang hidupnya bergantung penuh pada keberadaan air, terutama air berkualitas baik. Saat telurnya menetas, capung akan hidup di air dan bernafas dengan insang. Namun ketika sudah besar, maka ia akan bermetamorfosis menjadi hewan bersayap yang bisa terbang. Menurut para ahli, konon capung dapat dijadikan sebagai indikator alami kualitas air yang masih baik. Cukup masuk akal memang, apalagi jika mengingat sulit sekali menjumpai adanya capung di sekitar air kotor dan penuh sampah.
Lalu bagaimana kelanjutan dari ide segar ekspedisi ini?
Hehehe ... tunggu aja tanggal mainnya, mudah2an saja ini bisa terlaksana dalam waktu yang tidak terlalu lama. Dan sebelum ide ini mengkristal, Panglima Jawa Wetan alias Calon Gubernur Jawa Bagian Timur yg bernama Prigi Arisandi telah menyampaikan undangan untuk kunjungan kenegaraan balik kepada Panglima Jawa Kulon bulan depan. Mungkin dari kunjungan itu nanti akan semakin jelas rencana ekspedisi ini.
Selengkapnya ...
Rabu, 07 Desember 2011
Ciptagelar: Mengunjungi Kasepuhan Banten Kidul
Kala itu, waktu masih belum berkeluarga, saya pernah mengunjungi wilayah ini. Sebuah wilayah yg dikenal dengan Kasepuhan Banten Kidul. Seperti namanya, wilayah adat ini dianggap berumur tua. Sehingga wilayah ini jadi tempat meminta nasihat dan saran, terutama bagi orang Sunda. Meski demikian terkadang orang2 yg datang juga "minta yg aneh2" seperti minta kesembuhan dari penyakit, mengadu nasib, lancar jodoh dsb dsb. Aneh memang ... padahal tak satu pun papan nama yg terpampang menyebutkan adanya "dukun" di kasepuhan ini.
Saat datang pertama kali, saya bersama teman2 di Telapak berada di sini untuk mencari keberadaan burung elang asli Pulau Jawa. Nama ilmiahnya adalah Spizaetus bartelsi atau dalam bahasa Inggris disebut Javan Hawk-eagle. Nama lokalnya sendiri berbeda2 tergantung dimana ia berada. Ada yg menyebutnya Elang Jawa, Heulang Jambul, dsb dsb. Burung ini memang unik karena memiliki bulu jambul yang panjang di kepalanya. Dengan jambul tsb, burung ini terlihat gagah seperti Garuda.
Kasepuhan Banten Kidul berada di bagian selatan kawasan Taman Nasional Gunung Halimun-Salak. Secara administratif wilayah ini berada di wilayah Kabupaten sukabumi. Saat pertama datang, ibukota kasepuhan ini berada di Ciptarasa. Kasepuhan ini dipimpin oleh orang yg dijuluki Abah, namanya Abah Encup Sucipta.
Sekarang, jaman sudah berubah, maklum sudah lebih dari 14 tahun yang lalu saat saya datang dulu. Abah Encup sudah meninggal duniah dan digantikan oleh puteranya, yaitu Abah Ugi. Ibukota pemerintahan pun sudah dipindahkan setelah sebelumnya Abah Encup mendapatkan wangsit dari leluhurnya. Kepindahan ibukota ini terjadi pada tahun 2001, dari Ciptarasa ke Ciptagelar, atau disebut juga Kampung Cicemet yang berjarak sekitar 10 km menembus hutan. Komunitas adat ini memang selalu berpindah tempat tergantung wangsit yg diterima. Dulu sekali bahkan kasepuhan ini pernah berpusat di daerah Leuwiliang, Bogor.
Kebetulan sekali saya mendapat kesempatan untuk berkunjung kembali ke wilayah kasepuhan ini. Saya bersama 2 orang teman lagi mengantarkan Pak Asuy (asal Muara Tae, Kaltim) yg ingin berkonsultasi secara spiritual dengan Abah Ugi. Dalam hati saya juga bersyukur karena bisa dapat kesempatan untuk bernostalgia mengingat tempat dan saat2 saya masih muda dulu ... hehehe.
Empat belas tahun berselang ternyata tidak banyak yg berubah dari komunitas adat Kasepuhan Banten Kidul. Warga setempat berhasil mempertahankan kekuatan adat yg diwariskan dari para leluhur Pajajaran.Wis 14 tahun lewat ternyata komunitas adat Kasepuhan Banten Kidul ini nyaris tak berubah. Mereka terbukti berhasil mempertahankan kekuatan adatnya sing diwarisi soko leluhur Pajajaran.Ibukota kasepuhan memang telah berkembang dengan teknologi maju. Listrik tersedia 24 jam dari turbin mikrohidro. Signal HP tinggal pilih, mau pakai Telkomsel atau ProXL. Dalam radius sekitar 4 kilometer dari pusat kota tersedia fasilitas WIFI gratis. Ada sebuah stasiun televisi yg beroperasi selama 24 jam, namanya CIGATV atau Ciptagelar TV. Sudah banyak sepeda motor dan ada mobil 4WD. Namun hal itu semua tidak membuat warga kasepuhan jadi bergantung secara berlebihan pada modernisasi dan teknologi.
Hampir setiap laki2 selalu menggunakan ikat kepala atau udeng. Sementara kaum perempuan mengenakan kain bermotif batik (jarik/jarit). Hampir semua orang memiliki sawah atau juga ladang (huma) untuk ditanami padi. Hampir semua kepala keluarga memiliki lebih dari satu lumbung padi (leuit). Rumah2 masih berdinding bilik bambu dan beratapkan ijuk dari pohon enau. Walaupun sudah banyak yg mengenal bahasa Indonesia, namun Bahasa Sunda menjadi bahasa utama yg dipergunakan di sini. Acara2 adat seperti Seren Taun juga masih dilakukan setiap tahunnya. Kesenian tradisional yg asli berikut alat musiknya juga masih dipertahankan.Bagi saya, berkunjung (kembali) ke kawasan adat kasepuhan ini rasanya seperti kembali ke kampung halaman. Warga setempat sangat baik dan ramah. Kami disajikan makanan yg organik yang sehat. Meminum kopi nikmat. Tidur pun bisa pulas. Kami bisa menghirup udara sejuk dan segar yang bebas polusi industri dan kendaraan bermotor. Airnya bening, segar, sejuk dan berlimpah ruah. Betul2 menyenangkan. Menginap 2 malam di Ciptagelar rasanya telah mampu menghilangkan kepenatan bekerja di kantor selama ini. Badan terasa sehat dan pikiran pun fresh!!
Kembali pulang ke Bogor, saya merasakan ada hal yg hilang. Ciptagelar memang telah membuat rasa rindu. Ingin rasanya saya kembali datang ke sana, walau saya sendiri tak tahu kapan waktunya ...
posting serupa, namun dalam bahasa saya sendiri, juga dapat dibaca pada laman SumukraKringeten
Jumat, 08 Juli 2011
Mengikuti Air (Garut-Indramayu)
Air mengaliir sampai jaauuh ...
Akhirnya kee ... lauut ...
Bait2 di atas seringkali kita dengar sebagai nyanyian pengisi dalam sebuah iklan pipa PVC merek terkenal di Indonesia. Aslinya disadur dari sebuah lagu keroncong ternama dan legendaris ciptaan Alm. Gesang, yaitu Bengawan Solo. Bagi saya bait tersebut bukan hanya bait dalam lagu, namun juga mengandung arti yang dalam tentang sifat fisik dari air. Secara alamiah air selalu mengalir dari tempat tinggi ke tempat yang lebih rendah. Ia pasti akan turun ke bawah dan di ujungnya nanti akan menuju ke laut.
Rahasia alam yang menakjubkan ini tentu sudah kita
ketahui teorinya sejak sekolah dasar. Namun apakah kita tahu bagaimana perjalanan sang air menuju ke laut? Apakah ia akan menjumpai banyak hambatan? Apakah ia akan berkurang dalam jumlah dan kualitasnya? Semua orang boleh saja menduga2 jawabannya. Namun yang jelas kita hanya akan tahu jawabannya ketika kita betul2 bersama Sang Air mengikuti perjalanannya ke laut.
Beberapa orang dari Bogor dan Jakarta, saat ini sedang berupaya menguji nyali dan kemampuan teorinya masing2 untuk mengikuti aliran air Sungai Cimanuk. Alirannya cukup panjang, walau tak sepanjang Bengawan Solo. Dengan bantuan peta interaktif bikinan Google, kita dapat dengan mudah melihat sepintas aliran sungai ini. Di peta itu ditunjukkan bahwa Cimanuk mengalir dari wilayah Kabupaten Garut, melintasi Kabupaten Majalengka, lalu terus ke utara hingga berakhir di Kabupaten Indramayu. Di Indramayu ini lah air Cimanuk bergabung dengan Laut Jawa.
Siapa yang tak kenal pada kabupaten2 tersebut?
Hanya Garut lah yang dikenal luas memiliki penganan khas "dodol Garut". Dan hanya Garut pula lah yang dikenal sebagai sumber pemasok domba yg berukuran besar, yaitu Domba Garut. Mungkin utk bagian domba ini, keterkenalannya juga disokong oleh adanya atraksi budaya "adu domba" di Garut. Dan domba2 tersebut mungkin juga yang membuat Garut makin terkenal sebagai produsen jaket kulit.
Bagaimana dengan Indramayu yang berada di ujungnya? ... nahh kalau yang satu ini, selain dikenal sebagai lumbung padi di Provinsi Jawa Barat, juga dikenal sebagai pemasok tenaga kerja wanita. Masih berhubungan dengan "kewanitaan", Indramayu juga memiliki penyanyi dangdut ternama di Indonesia. Sebutlah salah satunya yg disukai banyak orang adalah Iis Dahlia. Selain irama dangdut, ia juga kerap menyanyikan lagu Melayu lawas dengan mendayu2 seperti lagu Timang Timang, Seroja, Ratapan Anak Tiri, dan Fatwa Pujangga.
Memang ... wilayah2 di sepanjang aliran Cimanuk ini penuh dengan cerita. Mulai dari produk2 lokal yang menjadi andalan sampai ke nasional dan internasional. Hingga potensi seni budaya seperti musik dangdut.
Jika mencoba mencari lebih jauh di dunia maya, ternyata Sungai Cimanuk ini juga memiliki cerita sejarah yang cukup lama. Indramayu di pantai utara Jawa ternyata memiliki sejarah yg erat dengan keberadaan Cimanuk. Seorang ksatria dari Kerajaan Majapahit bernama Raden Arya Wiralodra (putera Tumenggung Gagak Singalodra) telah mendirikan kota ini. Sebelumnya ia telah mendapat wangsit saat bertapa di kaki Gunung Sumbing.
“Hai Wiralodra apabila engkau ingin berbahagia berketurunan di kemudian hari, pergilah kearah matahari terbenam dan carilah lembah Sungai Cimanuk. Manakala telah disana, berhentilah dan tebanglah belukar secukupnya untuk mendirikan pedukuhan dan menetaplah disana. Kelak tempat itu akan menjadi subur dan makmur serta tujuh turunanmu akan memerintah disana”
Demikianlah bunyi wangsit itu.
Namun, sayangnya tidak banyak yang tahu soal Sungai Cimanuk ini. Terutama jika kita membandingkannya dengan sungai2 besar lain di Jawa Barat, seperti Ciliwung, Cisadane, Citarum dan Citanduy. Mungkin hal ini lah yang mendorong delapan orang asal Jakarta dan Bogor ini utk menyusuri Sungai Cimanuk. Mereka ingin mengetahui lebih banyak tentang sungai ini. Mereka yang tercatat namanya sebagai penyusur ini adalah: Hapsoro, Rita Mustikasari, Hari Kikuk, Andi Juanda, Yoyon Mujiono, Dika, Sudirman Asun, dan Saburo.
OKE selamat jalan kawan, semoga sukses dalam kegiatan penyusuran Sungai Cimanuk ini.
Untuk mengetahui sumber asli dari gambar2 di atas, silakan klik pada link berikut Peta Sungai Cimanuk, foto Iis Dahlia, dan Raden Arya Wiralodra
Kamis, 30 Desember 2010
Berdamai dengan warga kampung
Pagi ini, tepat pukul 10.00 telah terjadi sebuah perhelatan sederhana. Beberapa orang duduk bersila di beranda rumah sederhana milik seorang warga kampung. Hidangan sederhana ala kampung menjadi jamuannya. Sebagian dari mereka berpakaian seragam warna khaki dengan emblem di bahunya. Sebagian lagi terlihat berpakaian biasa. Sekalipun berbeda model pakaiannya, tak terlihat adanya perbedaan kasta ataupun tingkatan martabat diantara mereka. Mereka terlihat seimbang dalam posisi berbicara tanpa ada salah satu pihak yang ingin mengalahkan atau menguasai pembicaraan.
Mereka yang berseragam adalah para pegawai Taman Nasional Gunung Gede-Pangrango yang mengelola sebagian besar wilayah hutan di sekitar tempat itu. Sementara itu yang berpakaian biasa adalah para warga kampung yang juga anggota koperasi petani hutan setempat.
Dari percakapan mereka, tak banyak hal yang dibahas. Mereka hanya bercakap seputar bantuan dan kerjasama desa konservasi di wilayah tersebut. Sekalipun demikian, acara ini menjadi tonggak penting bagi kedua belah pihak yang hadir untuk memulai upaya kerjasama jangka panjang.
Taman Nasional Gunung Gede-Pangrango (TNGGP) telah bersepakat untuk memberikan bantuan ternak kambing, ayam, serta lebah madu kepada warga Kampung Ciwaluh, Desa Wates Jaya, Kecamatan Cigombong, Kabupaten Bogor. Bantuan ini diformalkan dalam bentuk kesepakatan kerjasama antara TNGGP dengan Koperasi Ciwaluh. Pihak TNGGP diwakili oleh Kepala Bidang TN Wilayah III Bogor, Ir. Harianto MSc. Sementara itu Bapak Apud sebagai Ketua Koperasi Ciwaluh turut menandatangani kesepakatan tersebut. Selain kedua penandatangan kesepakatan, Ibu Sulastri, Kepala Desa Wates Jaya juga hadir sebagai saksi resmi. Penandatanganan kesepakatan kerjasama ini juga dihadiri oleh Perkumpulan Telapak, melalui Badan Teritori Jawa Bagian Barat. Telapak diundang hadir karena dianggap telah cukup lama melakukan kegiatan pendampingan para warga Kampung Ciwaluh melalui usaha budidaya tumbuhan herbal.
Akhir-akhir ini Ciwaluh memang telah banyak berubah. Kampung terpencil di ujung desa itu kini telah menjadi kampung andalan. Koperasi Ciwaluh yang notabene anggotanya adalah para petani setempat telah menjadi tulang-punggung perekonomian di sana. Koperasi ini bahkan telah cukup sukses mengembangkan usaha budidaya beberapa jenis tumbuhan herbal, seperti Kumis Kucing (Orthosiphon sp.). Bahkan koperasi ini juga telah beberapa kali memasok produk herbal ke pasar domestik dan internasional. Kerja keras para warga kampung Ciwaluh telah berbuah manis. Mereka yang tadinya kerap berseteru dengan pihak TNGGP, kini telah dianggap sebagai mitra kerja taman nasional.
Pihak TNGGP yang jadi pengelola kawasan hutan di wilayah ini juga telah banyak berubah. Mereka tidak lagi menganggap warga Ciwaluh sebagai perusak hutan. Kesadaran bahwa upaya menjaga dan melestarikan hutan harus dilakukan bersama warga setempat juga mulai tumbuh. Jika dulu warga kampung selalu dituduh, kini TNGGP telah berdamai dengan mereka.
Bantuan ternak dan kesepakatan kerjasama ini mirip seperti sebuah traktat perdamaian. Semoga masing2 pihak tidak lagi saling bermusuhan dan melanggar kesepakatan tersebut. Semoga warga Kampung Ciwaluh pada akhirnya dapat menerima manfaat terbesar dari segala potensi kekayaan alam di wilayah ini. Dan semoga hutan2 yang tersisa di TNGGP pun dapat lestari.
Kamis, 16 Desember 2010
Merasa bangga dan lebay
Entah kenapa ada rasa bangga dan senang dalam diri saya ketika berkesempatan mengunjungi tempat berkumpul teman2 di Badan Teritorial Telapak Lampung. Anda mungkin akan mengatakan saya ini norak atau mungkin layak dibilang “lebay”.
Kantor itu berupa sebuah rumah kontrakan bercat hijau dengan ukuran cukup luas. Hanya 5 ruangan yang berfungsi penuh di kantor ini, yaitu sebuah kamar untuk bagian administrasi; sebuah ruang besar untuk menerima tamu, makan, dan berdiskusi; sebuah ruang dapur tempat kopi dan teh disiapkan; sebuah kamar mandi; dan sebuah ruang sholat. Selebihnya masih ada 5-10 ruang lagi yang kosong-melompong belum termanfaatkan. Padahal saat ini kantor tersebut tidak hanya ditempati oleh Telapak seorang. Kantor ini juga menjadi alamat kantor Yayasan Konservasi Way Seputih (YKWS).
Letak kantor ini cukup strategis, karena berada dekat dengan kawasan universitas, pasar, rumah sakit, terminal angkutan umum, serta stasiun kereta api. Alamatnya berada di
Jl. Danau Singkarak, Gg Darussalam Atas No.21, Kedaton – BandarlampungJika datang ke kantor ini, maka dengan mudah kita akan melihat papan nama Telapak. Di kaca depan terpampang plang nama berlogo Telapak yang di bawahnya bertuliskan “Badan Teritorial Lampung”. Hal ini lah yang membuat saya merasa bangga. Bangga karena Telapak memiliki kantor tersendiri di Lampung. Bangga karena nama itu tidak hanya dipakai sebagai penciri unit usaha kedai milik Telapak. Bagi orang lain mungkin kebanggaan saya terkesan norak, lebay dan bisa saja jadi sombong. Namun saya menganggap hal ini sangat penting sebagai pemicu dan pendorong keaktifan anggota Telapak yang berdomisili di Lampung. Saya rasa kejelasan alamat juga menjadi hal utama untuk mendongkrak semangat anggota mewujudkan cita-cita memimpin perubahan menuju kerakyatan dan kelestarian.
Semoga pendapat ini benar adanya …
Jikalau ternyata salah, maka saya mohon maaf. Karena tulisan ini hanyalah sebuah ungkapan perasaan subyektif dari saya.

Selengkapnya ...
Jumat, 07 Mei 2010
Kumis Ciwaluh ke Perancis lagi
Corat-coret berikut sekedar memberikan informasi bahwa daun kumis kucing kering (Orthosiphon stamineus) mempunyai nilai untuk dijual sebagai barang ekspor. Dan menyatakan bahwa program Telapak yang bertajuk community logging alias comlog dapat dikatakan sudah berjalan – bukan lagi sekedar wacana belaka. Ekspor ini membuktikan kemampuan bersaing dari model tani-hutan lestari di pasar global.
Berikut penuturannya.....
Sejak tiga tahun terakhir, Telapak telah melakukan serangkaian kegiatan pendampingan dan peningkatan kapasitas masyarakat sekitar hutan di Jawa Barat, khususnya di sekitar kaki Gunung Pangrango. Rangkaian kegiatan itu dilakukan dengan sebuah harapan untuk meningkatkan perekonomian masyarakat sekaligus mewujudkan pengelolaan sumberdaya hutan lestari berbasis masyarakat. Salah satunya adalah kelompok tani yang nama koperasinya yang disesuaikan dengan nama kampung mereka yaitu Koperasi Ciwaluh.
Selain mengembangkan usaha penanaman Kumis Kucing, Telapak juga membantu upaya pemasaran produk herbal ini ke pasar dunia. Sebuah perusahaan di Perancis, L’ Herbier du Diois ternyata menaruh perhatian yang sangat besar pada pasokan produk Kumis Kucing dari Indonesia. Mereka berminat untuk memperoleh pasokan daun Kumis Kucing kering dari usaha kelompok petani-hutan yang didampingi oleh Telapak. Setelah melalui beberapa kontak awal dan pengiriman contoh barang, akhirnya kegiatan ekspor produk ini pun berhasil dilakukan.
Hari Rabu, tanggal 28 April 2010, PNU Jabar memberangkatkan satu kontainer berisi kumis kucing organik sebanyak 5 ton. Pengiriman ini merupakan kali ketiganya ke perusahaan L’Herbier di Perancis. Berbeda dengan sebelumnya, kali ini stuffing (pemuatan barang) ke dalam kontainer dilakukan pagi buta sekitar jam 4 pagi. Pengurus Koperasi Ciwaluh sebagai penghasil kumis kucing organik turut membantu dalam proses tersebut.
Sebagai informasi, L’ Herbier du Diois adalah sebuah perusahaan pemasok bahan-bahan alami untuk industri di Perancis. Perusahaan ini memasok tumbuhan obat (medicinal plants), rempah-rempah, dan minyak tumbuhan yang dihasilkan secara organik. Termasuk kumis kucing telah dikenal luas di Indonesia sebagai obat tradional untuk penyakit kencing penyembuhan batuk encok, masuk angin, sembelit, radang ginjal, batu ginjal, kencing manis, albuminuria, dan penyakit syphilis. Dalam perkembangan dunia farmasi, Kumis Kucing juga dipergunakan sebagai bahan dasar obat-obatan modern di seluruh dunia.
Memang kerja-kerja untuk pendampingan masyarakat belum selesai karena harapannya kegiatan ekspor ini dapat dilakukan sendiri oleh Koperasi Ciwaluh berikut komoditas lainnya yang potensial dan tentu yang dikelola secara lestari sehingga tercapai apa yang selama ini menjadi slogan yaitu mandiri secara ekonomi dan bermartabat secara budaya.
ditulis oleh Rina Agustine
Rabu, 14 April 2010
Seluruh Tanah Air Indonesia adalah Kawasan Konservasi
Membaca judul di atas yang dianggap sebagai philosophy dari sebuah organisasi (Telapak) tentu tidak sesederhana dengan melihatnya sebagai tujuh kata yang terangkai membentuk satu kalimat tanpa dasar. Karena memang dari awal, kalimat tersebut tidak dimaksudkan hanya untuk keren-kerenan atau hanya sekedar mencari sensasi belaka. Ada proses dialog dari orang-orang yang terlibat atau yang kemudian terlibat di dalamnya. Meskipun hanya sekedar dialog ‘ringan’ sambil ngopi atau sambil main karambol, tidak sepolitis rapat anggota DPR, seserius diskusi para akademisi atau se-ambisius lokakarya LSM.
Kalimat tersebut mengkritik bahkan menggugat pandangan umum tentang kawasan konservasi yang menjadi wacana pemerintah dimana kawasan konservasi diartikan sebagai suatu kawasan khusus yang diberi label tertentu melalui ketetapan hukum. Kawasan yang dikontrol guna menjadi penyeimbang atas pembangunan yang dilakukan sebagai wujud pemenuhan ketentuan internasional. Tentu hal ini menimbulkan keresahan, karena penetapan tersebut dapat menjadi pembenaran bagi pemerintah dalam melakukan pembangunan dengan pola eksploitasi pada kawasan di luar kawasan tersebut seperti HPH, perkebunan skala besar, pertambangan dan pembangunan agresif wilayah perkotaan. Padahal hal tersebut yang justru banyak memberi kontribusi terhadap rusaknya keseimbangan ekologi secara keseluruhan di tanah air.
Dampak dari pembangunan yaitu banjir dan longsor yang kemudian sering terjadi dapat menunjukan bahwa cara pandang seperti itu jelas salah karena masalah ekologi memang tidak bisa dilihat dengan cara kapling perkapling tetapi harus secara holistik, secara menyeluruh. Apalagi peristiwa banjir dan longsor yang terus terjadi tidak dijadikan bahan pembelajaran bagi pemerintah untuk melakukan perubahan dari pola yang ada, justru dijadikan pembenaran lain bagi pemerintah untuk tetap mempertahankan kontrol terhadap dan akses kepada kawasan konservasi yang sudah ditetapkan. Kapling-kapling kawasan yang kemudian dijadikan sebagai pembenaran inilah yang menjadi kritik utama dari kalimat judul tersebut.
Yang menyedihkan adalah upaya yang dilakukan pemerintah untuk menutupi kesalahan-kesalahan akan dampak yang timbul. Pemerintah sebagai pemegang kekuasaan politik memungkinkan melakukan konstruksi wacana bagi publik dengan cara mengorbankan kelompok masyarakat yang paling lemah. Hal ini bisa dilakukan melalui penelitian selektif, sistem pendidikan, politik pendanaan dan media masa dan kadang melibatkan LSM lingkungan serta perguruan tinggi. Mereka yang sering dijadikan kambing hitam atas ’dosa-dosa’ yang dilakukan pemerintah yaitu masyarakat yang berada di pinggir kawasan konservasi, petani di hulu (up-land) dan juga orang-orang miskin kota yang tinggal di pinggir sungai. Kambing hitam bagi perusahaan skala besar yang gila-gilaan menggunduli hutan dan pembangunan perkotaan yang agresif sehingga meningkatkan run off dan mematikan resapan air.
Jadi penetapan kawasan konservasi atau teritorialisasi yang dilakukan oleh pemerintah tidak melulu soal konservasi seperti yang banyak diajarkan di sekolah dasar hingga ke perguruan tinggi. Teritorialisasi berupa penetapan suatu kawasan merupakan upaya negara untuk mengontrol suatu wilayah yang tidak sekedar khusus merujuk pada aspek geografis atau lokasi saja, akan tetapi memiliki dimensi sosial, ekonomi dan politik.
Judul diatas menawarkan gagasan pemikiran tertentu yang memandang persoalan lingkungan lebih holistik sebagai satu kesatuan ruang secara menyeluruh. Sehingga persoalan lingkungan tidak dilihat dalam arti yang sempit hanya dari segi hidro-orologis, ekologis, geologis, bio-geografis, dan klimatologis saja, tetapi melihat adanya relasi sosial antar manusia yang menjadi bagian yang tak terpisahkan. Sehingga tidak seperti pemikiran umum yang melihat persoalan lingkungan berdasarkan analogi gampangan antara masyarakat dan alam saja. Disini dilihat bahwa relasi manusia dengan alam ditentukan dan dibentuk oleh relasi antar manusia satu dengan manusia yang lain. Dominasi manusia atas alam berakar dari dominasi manusia yang satu terhadap manusia lainnya. Sehingga penghapusan dominasi manusia terhadap alam memerlukan penghapusan dominasi yang terjadi di dalam masyarakat manusia, jadi lebih dekat dengan pendekatan ekologi sosial.
Sampai disini terlihat bahwa kalimat tersebut juga menunjukan sikap politik yang tegas atas apa yang dilakukan pemerintah. Mempertanyakan dominasi negara atas sumberdaya alam yang justru banyak menimbulkan permasalahan bangsa. Apalagi penunjukan kawasan konservasi tersebut atas desakan internasional melalui bujukan dana dan NGO, sehingga kawasan tersebut hanya menjadi panggung drama yang mempertontonkan lemahnya pemerintah. Sehingga kalimat tersebut juga menuntut penghapusan segala bentuk hirarki dan dominasi antar manusia agar tidak terjadi dominasi manusia terhadap alam. Meskipun tidak sampai kepada jawaban atas pertanyaan klasik tentang kemungkinan sebuah sistem politik tanpa hierarki dan dominasi. Atau sedalam pergulatan pemikiran politik ekologi, paling tidak disini sudah ada gagasan dan imajinasi bahwa masyarakat harus memiliki tatanan sesuai prinsip-prinsip tertentu yaitu prinsip keadilan ekologi.
Jadi kalimat di atas di dalamnya tersirat makna yang lebih luas dari sekedar arti harfiahnya. Tidak sesederhana membalikan arti harfiahnya menjadi “tidak ada kawasan konservasi di tanah air Indonesia”. Ada perasaan-resah, gugatan-kritik, cita-cita, gagasan dan sikap politik yang bisa membentuk imanjinasi tertentu. Imajinasi tentang tanah air Indonesia... Kalau memang seperti itu, ini berarti lebih baik dibandingkan partai politik jaman sekarang yang menurut Goenawan Mohamad mirip toko, lapak, warung, yang berjualan menjajakan diri kepada rakyat tanpa imajinasi. Sehingga tidak mampu menjembatani antara subjektivitas dengan universalitas.
Mudah-mudahan dengan tulisan ini dapat memberi rangsangan agar kalimat diatas bisa ‘lebih hidup’ menuju artikulasi dari para anggota guna membentuk sebuah imajinasi kolektif dari sebuah organisasi gerakan yang bernama Telapak. Sebuah imajinasi tentang tatanan sosial yang lebih baik ...
gambar peta Indonesia diunduh dari sini
Sabtu, 06 Februari 2010
Napak Tilas Telapak BAGIAN #3 HABIS
Pagi dan nostalgia Cibanteng
Pagi hari, walau tidak terlalu pagi, kami kembali meneruskan perjalanan. Sekitar pukul 8 pagi (kayaknya) kami mulai meninggalkan persinggahan di Kampus IPB ini. Sebelum kami berangkat saya dan Ruwi pun kembali memasang prasasti telapak. Kami memakunya pada kerangka pintu masuk sekretariat LAWALATA IPB. Setelah itu, kami pun berfoto bersama. Baru setelahnya kami berpamitan dan meneruskan perjalanan napak tilas ini. Kami melintas di koridor yang menjadi seperti jembatan di atas Danau Situ Leutik. Danau buatan ini adalah satu2nya danau yang berada di lingkungan kampus ini. Sinah matahari pagi terasa indah saat memantul di atas danau dan mengenai muka2 kami yang tidak mandi. Hal ini mendorong saya untuk memotret. Sekalipun saya tidak mampu menangkap keindahan sinar matahari di atas danau, namun hal itu tidak mengurungkan niat saya untuk memotret. Jepret demi jepret pun saya lakukan dengan obyek utama yang paling mudah, yaitu … kami para penapak tilas ini.
Saat sudah berada di luar kawasan kampus, tepatnya di Jalan Raya Darmaga kami semua mulai merasa lapar. Ini kan saatnya sarapan pagi. Di kiri-kanan jalan terlihat orang berjualan bubur ayam dan nasi uduk. Ingin rasanya mampir untuk mengisi perut sambil ngopi. Tapi rupanya kami masih cukup tabah dan tidak tergoda untuk berhenti. Kami berjalan terus hingga sampai ke tujuan selanjutnya, yaitu Cibanteng Motor. Tempat ini sebenarnya hanyalah sebuah bengkel ban dan tempat cuci mobil. Namun bagian belakangnya menyediakan kamar2 kos. Dulu sekali di tahun 1995-1996 beberapa dari kami pernah kos bersama di sini dan mulai memproklamirkan diri sebagai Telapak. Setelah berfoto bersama di depan halaman Cibanteng Motor, kami pun menuju tempat favorit kala itu yaitu Warung Nasi Uduk Ceu Mar. Sebuah warung sederhana sekali yang berada di belakang tempat kos dan bengkel ini.

Sontak si pemilik warung, yaitu Ceu Mar dan suaminya kaget bukan kepalang dengan kedatangan ini. Rupanya mereka juga sudah sama rindunya dengan kami untuk bertemu. Saya dan Ruwi yang dulu pernah kos di Cibanteng Motor pun jadi asyik bernostalgia dengan Ceu Mar dan suaminya. Pembicaraannya sudah bisa ditebak lah. Mulai dari bagaimana kabarnya, tinggal di mana, anaknya berapa, serta bagaimana dengan teman yang lain seperti Arbi, Imran dan Ray adalah pokok bahasannya. Cukup lama juga kami berada di warung ini. Kami bercerita, sarapan nasi uduk dan mie instan, minum kopi, tak ketinggalan pula memasang prasasti dan memenuhi kewajiban morning call buang hajat pagi hari.
Salah rute berujung lelah
Selanjutnya ... ini adalah rute perjalanan yang kami rasakan paling berat. Perjalanan tidak lagi dilakukan malam hari yang sejuk, tapi di bawah terik matahari. Kami meninggalkan Cibanteng sekitar pukul 10. Jumlah personil pejalan kaki berkurang satu. Hendaru memutuskan untuk pulang mengambil mobil yang baru saja ia beli. Jadi lah empat orang pejalan kaki telapak mencoba bertahan dalam jauhnya jarak dan terik matahari. Kami melintasi 2 buah desa yang cukup luas, yaitu Cihideung Udik dan Situ Daun. Rute yang kami tempuh menuju Gunung Malang. Di sini lah letak kesalahannya. Jadi … kami telah salah mengambil rute perjalanan. Seharusnya kami menuju ke arah tenggara dan mencapai Ciapus dalam rute yang lebih singkat dan relatif tidak berat. Namun dasar kami tak tahu medan serta sedikit bumbu sok jago, maka rute yang kami tempuh jadi menuju ke arah selatan. Sekalipun pada akhirnya kedua rute tersebut dapat menuju ke Ciapus, namun rute selatan via Gunung Malang adalah pilihan yang bodoh. Untunglah kesalahan ini baru kami sadari setelah kami melaluinya dan kami pun agak masa bodoh dengan rute perjalanan. Yang ada di kepala kami saat itu hanya berjalan kaki dan berjalan kaki sejauh yang kami mampu.
Namun demikian, kami berempat ternyata masih mampu melalui perjalanan melelahkan ini. Betapa tidak melelahkan, menu utama pembicaraan kami berempat hanya berkutat di seputar halusinasi akan pemandangan yang indah karena kelelahan. Kami juga membahas betapa kami akan selalu dikalahkan oleh seorang penjual roti pikulan karena ia lebih tahu medan dan kuat secara fisik dibanding kami. Dua orang personil kami Ejhonski dan Alex mulai mengkonsumsi suplemen yang menjanjikan kekuatan fisik yang “joss”. Alex menukar celana panjangnya dengan celana pendek. Langkah kaki kami sudah tidak terasa seperti melangkah, namun lebih mirip menyeret langkah. Jangan tanya soal keringat, karena kami semua selalu berkeringat.
Setelah beberapa kali beristirahat di tepi jalan, akhirnya kami memutuskan untuk beristirahat agak lama di Desa Situ Daun. Di sini kami bertemu dengan Hendaru dan Kang Hendra. Kami berencana untuk makan siang dan sholat (bagi yang sholat). Namun ternyata situasinya keputusan ini tidak sepenuhnya terjadi. Kami gagal makan siang. Dan yang lebih seru, ternyata kami terpisah. Saya terpisah dari yang lain. Saya melanjutkan perjalanan seorang diri dengan rute tanjakan kiri selepas Situ Daun. Sementara teman2 lain mengambil rute tanjakan kanan. Mungkin kelelahan telah membuat kami jadi terpisah. Saya merasa telah ditinggalkan oleh teman2. Namun teman2 mengira saya akan menempuh rute mereka. Syukurlah pada akhirnya, setelah terpisah satu jam lebih, kami kembali bersatu dalam tim. Kami bertemu kembali di sebuah tanjakan panjang dan tajam selepas Desa Situ Daun. Waktu sudah mendekati pukul 3 sore. Kami pun memutuskan utk menghentikannya dan menggantinya dengan kendaraan bermotor. Saya, Ejhon dan Hendaru menumpang mobil Hendaru yang dikendarai oleh Sunar. Ruwi mengendarai mobilnya sendiri yang datang bersama istri menjemputnya. Sementara Alex duduk manis di belakang motor yang dikendarai oleh Kang Hendra.
Rombongan kendaraan kami akhirnya berhenti di Warung Loa. Kami memutuskan berhenti di sini untuk makan siang yang terlambat. Kami pun makan siang di sebuah warung diiringi dengan guyuran hujan lebat. Setelah otot sedikit melemas, perut terisi kenyang, dan kelelahan mulai berkurang kami memutuskan untuk melanjutkan jalan kaki menuju rumah Budi Hartono di Ciapus. Kami memperkirakan perjalanan ini hanyalah perjalanan dalam hujan selama 45 menit sampai 1 jam. Dengan demikian kami akan tiba di lokasi Peringatan HUT Telapak tanpa terlambat. Kami pun segera melangkahkan kaki kembali. Tercatat saya, Ejhon, Hendaru, Ruwi dan ditemani oleh Debbie sang istri yang berjalan kaki. Sementara sisanya membawa kendaraan.
Setelah basah kuyup diguyur hujan, akhirnya tim pejalan kaki telapak ini pun tiba di Ciapus dengan selamat. Perhitungan kami tepat, karena acara masih belum dimulai. Pfhiuuuhhh … tuntas sudah napak tilas ini. Banyak sekali yang kami dapat selama perjalanan. Tak hanya kelelahan fisik, namun juga seluruh ujian mental kami rasakan. Belum lagi suasana indah yang kami jumpai saat melintas di lingkungan pedesaan. Semoga napak tilas ini tidak hanya berhenti di sini. Kami berharap masih bisa melakukan hal yang serupa di lain hari dengan rute2 lainnya.
Jumat, 05 Februari 2010
Napak Tilas Telapak BAGIAN #2
Jurit malam pramuka palsu
Ketika jarum arloji berada di sekitar angka 11, kami pun melanjutkan perjalanan. Tak lupa, seperti sebelumnya saya dan Ruwi menempelkan prasasti telapak. Kali ini jumlahnya bukan 1 buah prasasti, tapi 3 buah. Satu di teras gudang PNU Jabar, satu di teras Gekko, dan satu lagi di teras studio. Sesaat sebelum kaki2 kami melangkah keluar halaman, kami berfoto bersama. Tim pejalan kaki ini mendapat tambahan personil lagi, yaitu Ejhonski, Alex dan Kang Hendra. Jadi total personil berjumlah 5 orang pejalan kaki dan 1 orang, yaitu Kang Hendra sebagai pendukung logistik .
Langkah2 kaki kami terlihat menapak dengan mantap meninggalkan Gekko. Bismillahirrohman nirrohiim … satu dua satu dua kami berjalan mantap menembus kegelapan malam Perumahan Yasmin, Desa Curug Mekar. Kelima pejalan kaki telapak ini sudah mirip 5 jagoan saja dengan ransel kecil di setiap punggungnya. Setelah melintasi lampu merah, kami pun menyempatkan diri kembali berfoto. Kali ini tepat di atas jembatan Sungai Cisadane. Beberapa kendaraan yang melintas di samping kanan kami memainkan lampu dan membunyikan klakson. Mungkin para pengendaranya iri dengan kehebatan 5 jagoan pejalan kaki ini … hehehe. Atau … jangan2 para pengendara itu berusaha mengingatkan kami agar tidak menjadi “orang gila” yang kurang kerjaan.
Selepas jembatan Cisadane, kami pun melintas di tepi Terminal Bubulak. Suasana terminal tampak sepi, berbeda dengan siang hari yang gegap-gempita dengan ribuan angkot. Maklum Bogor kan terkenal sebagai “kota angkot”, jadi suasana terminalnya pasti mirip sarang semut … ehh angkot jika siang hari. Tapi malam itu, yang gegap-gempita mungkin hanya suasana hati kami berenam. Gegap-gempita karena semangat membara utk menaklukkan perjalanan ini. Lima jagoan pejalan kaki menembus malam. Saya jadi membayangkan saat masih bersekolah dulu. Saat mengikuti kegiatan pramuka. Rasa2nya kami ini seperti sedang melakukan kegiatan “jurit malam”. Suasana jurit malam ini makin terasa saat mendekati kawasan hutan CIFOR. Hiiii … sereeem ….
Namun, suasana jurit malam ini sempat berubah. Di kampung Situ Gede kami memilih berjalan melewati kerumunan orang kampung. Mereka rupanya sedang asyik menikmati tayangan “layar tancap”. Ingin rasanya saya berhenti sejenak untuk ikut nonton dan mencicipi jajanan yang dijajakan di sepanjang jalan. Tapi apa daya, jika kami harus berhenti lagi, kapan sampainya? Akhirnya saya hanya sempat melirik sebentar, berhenti 3 detik untuk memperhatikan layar lebar di tepi jalan itu. Rupanya yang sedang ditayangkan adalah filem komedi ringan yang salah satu bintangnya adalah Indra Birowo. Siapa dia? Ahh gak penting kali … dia itu lho yang main di tayangan Extravaganza di Trans TV.
Setelah melintasi Kampung Situ Gede, kami lalu beristirahat meluruskan kaki yang mulai pegal-pegal. Kami memilih tepian Danau Situ Gede. Sambil beristirahat dan menghisap rokok, masing2 dari kami mulai menikmati suasana Situ Gede di malam hari. Saya membayangkan seandainya bisa sambil memancing ikan di sini. Ejhonski berusaha menjelaskan pengalamannya dulu saat berwisata bersama keluarganya di sini. Ruwi, Alex dan Kang Hendra menikmati isi cairan dalam kaleng bertuliskan “mengandung alcohol”. Hendaru yang mengaku mengantuk, merebahkan diri berusaha memanfaatkan waktu untuk tidur. “Menghemat tenaga”, katanya.
Suasana damai serta obrolan dan nyanyian penghibur hati
Seusai istirahat, kami melanjutkan perjalanan menuju Kampus IPB Darmaga. Kami memilih rute jalan kecil membelah areal persawahan yang menghubungkan Situ Gede dengan kampus. “Nyaman, damai, dan enak suasananya”, ungkap Alex. Ungkapan ini tentu saja diiyakan oleh kami yang lain. Betapa tidak, kami berjalan seperti diiringi oleh suara jangkrik dan gemercik air selokan irigasi sawah. Agak jauh di sebelah kiri kami terdengar gemuruh sayup2 suara aliran air sungai Cikarawang. Pedesaan banget lahh … Padahal sebenarnya tenaga kami sudah agak melemah. Otot paha dan betis mengeras. Mata pun sudah ingin terpejam. Saya mengintip arloji dan jarum pendeknya mendekati angka 1. “Ediaan … sudah waktunya ngorok nih”, gumam saya dalam hati.
Saya berjalan di depan bersama Ejhonski dan Hendaru, sementara Alex dan Ruwi di belakang. Sayup2 saya mendengar percakapan kawan2 yang di belakang. Sebuah percakapan yang mungkin tidak ada artinya. Hanya sekedar memecah keheningan malam dan melupakan rasa letih dan lesu. Ruwi berusaha memberi tahu pada Alex bahwa di tempat ini seorang penulis terkenal punya rumah peristirahatan. Ia mengatakannya karena sang penulis berdarah Sulawesi Utara, sama seperti Alex. Namanya Remi Silado. Sayangnya hingga kami melintasi persawahan yang damai ini saya tidak mendengar ungkapan yakin dari Ruwi tentang di mana letak pasti rumah sang penulis. Ini adalah hal yang sama dengan upaya Hendaru yang menjelaskan bahwa ia memiliki teman yang membiakkan jamur tiram di tempat ini. Hingga kami melintasi tempat tersebut Hendaru juga tidak begitu hafal di mana letak kebun temannya itu.
Selepas areal persawahan, dilanjutkan dengan kompleks perumahan pegawai IPB, dan jembatan Cangkurawok, akhirnya kami tiba di sisi utara Kampus IPB Darmaga. Di sini kami punya cara lain untuk menghibur hati yang lelah dan fisik yang lemah. Tak lain dan tak bukan adalah bersenandung riang lagu di era 80-an. Yang terpilih adalah lagu yang dipoluperkan oleh Heidi Diana. “Romantika bercinta, sungguh aneh ada2 saja. Remaja2 kini pun pandai beraksi. Di dalam kamus bercinta, slalu saja memakai istilah. Yang tidak didapat dari guru bahasakuuu. Benci, benar2 cinta. Sebel, senang betul … dst dst.” Kemudian di bagian akhirnya ditutup dengan “Susuki … sungguh2 laki2 …. Hahahaaaa”. Kami menyanyikannya berulang2 sambil sesekali diselip dengan “mulan jamila, mau lancar jatuh miskin lagi” dan “udin gawang, udara dingin gak punya uwang”.
Tak terasa kami, perlahan tapi pasti tanjakan tajam di depan Asrama Mahasiswa IPB kami lalui dengan hiburan tadi. Kami berjalan terus melintasi SMU Kornita dan akhirnya … sampai juga kami di sasaran berikutnya yaitu Sekretariat LAWALATA IPB sekitar pukul 01.30. Kami disambut dengan hangat oleh para pecinta alam yang menginap di sana. Mereka memberi suguhan teh manis dan tempat tidur. Tentu saja tempat tidur itu bukanlah kasur yang empuk, tapi kursi panjang, sleeping bag dan karpet di atas lantai. Sebagai tamu tentunya kami harus menjaga kesopanan untuk menyapa dan ngobrol ringan dengan mereka. Tapi dasar kondisi fisik sudah lelah, satu persatu kami pun mulai hilang kesadaran dan tidur. Jangan bertanya lagi apakah kami ngorok. Jawabnya sudah pasti iya … [BERSAMBUNG]
Kamis, 04 Februari 2010
Napak Tilas Telapak BAGIAN #1
Ulang tahun Telapak baru saja lewat. Perayaan di BT Jawa Barat diisi dengan gegap gempita potong tumpeng, foto bareng, makan-makan, dan nyanyi bareng pun sudah berakhir. Semuanya sudah dirasakan dan diceritakan lengkap oleh Pak Gubernur Yayat dalam blog ini. Tapi … rasa2nya ada satu hal yang kelihatannya belum lengkap diceritakan dalam rangkaian itu. Apa dan bagaimana ceritanya, mungkin hanya pelakunya lah yang bisa bercerita.
Merencana napak tilas
Diawali dengan sebuah lontaran ide di pagi hari yang cerah. Sebuah meja kecil bulat di kedai Telapak tempat ide tersebut terlontar. Adalah Ruwi yang duduk manis (yang bener?) minum kopi sambil menggoyang-goyangkan pergelangan kakinya. Dia berujar, “Ehh … Oiek, gimana kalo kita jalan kaki napak tilas? Kita mengunjungi tempat-tempat di mana Telapak pernah dan sedang ada di seputar Bogor. Siapa tahu ini bisa jadi awal tradisi di Telapak.” Saya tak mampu bereaksi ketika itu. Saya baru datang 3 detik, langsung disuguh oleh ide ini. Minum kopi juga belum. Ketika pantat ini mendarat di salah satu kursi di sana, mulailah saya berpikir. “Hmmm … sebuah ide yang menarik sebenarnya. Lumayan kan bisa melakukan kegilaan tapi di dalamnya ada nuansa idealistik,” begitu yang saya bayangkan. Iya doong. Berjalan kaki itu semestinya menjadi roh dari setiap kegiatan di Telapak. Itu juga yang disimbolkan dalam bentuk logo “telapak kaki” manusia dalam lambang Telapak. Belum lagi manfaat kebugaran yang mungkin didapat dari berjalan kaki. Akhirnya saya pun mengiyakan ajakan ini, setelah sebelumnya (tentu saja) minta exit/permit dulu sama ibunya anak2. Maklum lah napak tilas ini bisa dianggap sebagai upaya “gila-gilaan” dan pake nginep segala … hehehe.
Segera setelahnya perjalanan pun dirancang. Siapa yang akan diajak, kapan dilaksanakan dsb dsb. Karena perjalanan akan menempuh jarak puluhan kilometer, maka perjalanan dirancang selama 2 hari 1 malam. Rute kami adalah Gedung Alumni IPB (kantor Telapak) – Sempur Kaler 16 – Kippy Sudirman – Gekko (Yasmin sektor 5) – Sekretariat LAWALATA IPB (Kampus IPB Darmaga) – Cibanteng Motor – Ciapus (rumah Budi Hartono). Di hari-hari berikutnya, kami berdua mulai bergerilya mengajak teman2 untuk bersama-sama melakukan “napak tilas”. Sementara Ruwi menyiapkan sebuah bentuk prasasti yang akan ditinggalkan di setiap tempat yg dikunjungi. Prasasti itu berbentuk sepasang telapak kaki yang terbuat dari logam. Dan akhirnya, kami pun sudah berkumpul di Gedung Alumni untuk memulai perjalanan. Tiga orang teman siap mengikuti perjalanan kami dari titik start, yaitu Hendaru, Itok dan Wishnu.
Menuju Sempur hingga Yasmin
Rabu, 20 Januari 2009, tepat pukul 18.00 saya, Ruwi, Hendaru, Itok, dan Wishnu memulai perjalanan napak tilas. Kami dilepas oleh beberapa teman dengan ucapan do’a. Kaki-kaki kami langkahkan dengan harapan semoga bisa selamat sampai tujuan tanpa pingsan. Rute Baranangsiang – Sempur kami tempuh dengan jalan santai setengah jam. Sebelum mendekati sasaran di Sempur, kami menyempatkan berhenti sejenak untuk menunaikan sholat maghrib (bagi yang sholat) di Mesjid Sempur. Tiba di sasaran, langsung prasasti kami siapkan. Telapak kaki berwarna silver kami lekatkan dengan paku pada pagar rumah di Sempur Kaler 16. Di sekitar kami seorang kru media Kotahujan.com mengambil gambar kejadian ini dengan video. “Mirip kejadian di filem-filem,“ seru saya dalam hati. Maklum takut terdengar jadi terkesan sok hebat, padahal ini baru kilometer awal.
Selesai dengan Sempur, kami pun beranjak mendaki tebing Ciliwung menuju Kippy Sudirman. Langkah kami berangsur pelan, maklum kami bukanlah pendaki gunung yang berstamina prima. Sepuluh menit kemudian sampai lah kami di sasaran kedua. Sebuah percetakan dengan sajian jus stroberi sudah menanti. Ternyata sepuluh menit mendaki sudah cukup membuat kami semua berkeringat. Wajar saja jika kami butuh jus stroberi yang segar itu. Seperti sebelumnya, sebelum kami beranjak pindah tempat, kami kembali memasang prasasti telapak kaki di depan Kippy Sudirman. Di sini kami harus berpisah dengan Wishnu. Yaa … maklum lah beliau kan sudah kasih kami dengan suguhan jus stroberi gratis. Jadi tak perlu lah melanjutkan perjalanan …. Hehehe (punten ahh … bercanda Oom Wishnu).
Perjalanan kami mulai terasa jauhnya. Kippy Sudirman menuju Gekko rasanya panjaaaang betul. Kami melintasi Jalan Sawojajar, Jalan Cibalok, Jalan Martadinata, Jalan Cimanggu Kecil, Jalan Raya Cimanggu, Jalan Johar, jalan tembus Cimanggu-Yasmin, dan boulevard Yasmin. Sela-sela jempol kaki saya rasanya lecet karena sendal jepit. Kaki-kaki pun terasa pegal. Hwaduuuh … belum seberapa nih saya pikir. Di pertigaan Cimanggu, kami berpisah dengan satu-satunya teman perempuan dalam perjalanan ini. Itok pamit pulang karena harus mengurus anaknya. Sekitar pukul 21.00 kami akhirnya mendarat dengan mulus juga di Gekko.
Bagi kami perjalanan Bogor-Yasmin memang terasa panjang. Belum lagi perut terasa sangat lapar karena saya dan Ruwi belum makan. Hendaru sendiri sempat makan nasi bungkus ketika beristirahat di Kippy Sudirman. Akhirnya kami pun beristirahat agak lama di Gekko. Mengisi bahan bakar dengan nasi dan dilanjutkan dengan kopi memang tepat. Sementara Hendaru meluruskan badan dengan tontonan filem komedi dari televisi. Sekitar 2 jam kami habiskan di tempat ini. [BERSAMBUNG]
Selasa, 05 Januari 2010
Selamat Tahun Baru, Selamat Ulang Tahun Telapak

Pertama-tama ijinkan saya mengucapkan selamat tahun baru 1 Muharam 1431 H dan 1 Januari 2010. Telah setahun lewat kita mulai mengaktifkan Badan Teritori Telapak Jawa Bagian Barat ini, banyak kesuksesan dan juga tidak sedikit kegagalan dalam gerakan ini yang semakin membuat kita semakin dekat dan semakin solid dalam bergerak bersama, semoga.
Tidak terasa juga pada bulan ini tanggal 21 nanti Telapak memasuki umur yang ke-13, mudah-mudahan ini bukan angka sial, karena saya pribadi tidak pernah percaya dengan angka sial. Nah, inilah saatnya yang sangat tepat untuk merefleksikan diri Telapak, sudah sejauh mana mengukir karya dan sebesar apa manfaatnya bagi dunia.
Sehubungan dengan hal tersebut, kayaknya kalo nggak dibikin acara khusus pada tanggal 21 Januari nanti akan terasa sangat hambar, maka saya jauh-jauh hari mengundang semua teman-teman anggota Telapak untuk ramai-ramai kita isi hari ulang tahun Telapak dengan "tumpengan, do'a bersama dan silaturahim" keluarga besar Telapak.
Bila ada ide kegiatan lainnya untuk mengisi "bulan ulang tahun Telapak" silahkan diposting di blog ini. Untuk kepastian acaranya nanti akan dikirimkan pada postingan berikutnya, segera.
Selamat ulang tahun,
Salam,
M Yayat Afianto
Kamis, 17 September 2009
Mohon maaf ...
Tak hanya saya, tapi juga kami dan segenap jiwa raga kami anggota Telapak di wilayah Jawa Barat dan DKI ingin memohon maaf atas segala khilaf yang pernah kami buat. Dan .... semoga ramadhan ini membawa makna lebih pada diri kita masing-masing.
Kawan-kawan semua .... "SELAMAT IDUL FITRI 1430 H, Mohon Maaf Lahir dan Batin" ... (seperti pada kartu ucapan ini)
Selamat berlibur, selamat mudik lebaran, dan selamat-selamat yang lain ... sampai jumpa bulan depan!!
Ganti teks ini tuk paragraf berikutnya
Senin, 31 Agustus 2009
Kenapa orang lebih pilih gunduli hutan untuk kertas?
Entah kenapa pertanyaan ini selalu menganggu benakku. Tapi kejadian demi kejadian selalu saja berulang di mana2. Orang lebih mementingkan untuk menghasilkan kertas banyak2 dan mengkonsumsinya banyak2 tanpa harus mempedulikan beribu juta hektar hutan yang habis digunduli. Lebih parah lagi penggundulan hutan tersebut tak hanya berdampak pada penggurangan besar2an keanekaragaman hayati dan jutaan ton gas rumah kaca, namun juga menafikan niat baik dari warga desa untuk melestarikan hutannya sendiri.
Sungguh ironis ...
Untuk kesekian kalinya warga desa di sekitar ekosistem rawa gambut Semenanjung Kampar dipaksa gigit jari. Niat baik mereka utk memenuhi dorongan mengembangkan hutan desa harus berhenti karena kawasan hutan tersebut lebih dipilih penguasa dan pengusaha utk dijadikan kebun akasia (acacia).
Semuanya hanya untuk dirubah menjadi sumber bahan baku kertas. Warga desa tak boleh mengembangkan upaya pengelolaan hutan lestari. Tak boleh juga mereka punya lubuk2 ikan air tawar yang memberi manfaat ekonomi bagi seluruh kampung. Apalagi jika mereka harus mengembangkan pemanfaatan kayu hutan alam bernilai tinggi di sana.
Adalah sebuah desa kecil di Kecamatan Teluk Meranti, Kabupaten Pelalawan, Riau yang
dipaksa menjadi wilayah Hutan Tanaman Industri (HTI) Kertas. Desa itu bernama Teluk Binjai. Sebuah desa yang warganya telah beradaptasi puluhan tahun dengan situasi ekosistem hutan rawa gambut.
Mereka inginkan hutan di wilayah desa mereka menjadi lebih bermanfaat secara ekonomi dan ekologis. Status kawasan hutan desa menjadi pilihan mereka. Mereka membayangkan kawasan itu menjadi sentra produksi ikan air tawar. Mereka juga membayangkan kawasan hutan itu menjadi kawasan perlindungan bagi pohon2 bernilai tinggi dan terancam punah seperti Ramin (Gonystylus bancanus). Mereka juga ingin ikut berkontribusi pada upaya menjaga agar kawasan gambut itu tidak menjadi kering dan rawan kebakaran hutan.
Tapi apa daya, sebuah perusahaan besar kertas telah mendapat restu dari Pemerintah utk merubah hutan gambut tersebut menjadi HTI. Rupanya produk kertas yang sebagian besar dikonsumsi masyarakat negara Eropa, Amerika dan Jepang lebih berharga dibandingkan nasib para warga kampung kecil di Semenanjung Kampar itu. Bukankah itu adalah sebuah "kedzaliman"?
Tulisan ini adalah ungkapan perasaan saya atas warga Desa Teluk Binjai seperti yang ditulis dalam Siaran Pers Perkumpulan Telapak dan Yayasan Mitra Insani hari ini.
gambar di atas diunduh dari aslinya di laman ini.
Rabu, 12 Agustus 2009
Teritori baru, gubernur baru
Bogor, 11 Agustus 2009. Seakan tak ingin tertinggal dengan pembentukan propinsi dan kabupaten baru di Indonesia, hari ini Perkumpulan Telapak meresmikan terbentuknya sebuah badan teritori baru di bumi Nusantara. Badan teritori yang mencakup wilayah Aceh hingga ke Riau tersebut dinamakan BT Sumbagut (sumatera bagian utara). Seiring dengan terbentuknya badan teritori baru, dilantik pula teman kita Zahedi Charamsar Malley alias "Didi" untuk menjadi ketuanya.
Peresmian badan teritori Telapak dan gubernur [baca: ketua BT] baru ini dilakukan dalam sebuah acara pertemuan resmi antara BPP, Kabinet, dan seluruh Ketua Badan Teritori. Dalam pertemuan ini, untuk pertama kalinya dinyatakan secara resmi bahwa setiap acara2 resmi Anggota Telapak dibuka dengan menyanyikan Lagu Indonesia Raya dan ditutup dengan Lagu Padamu Negri serta do'a. Terasa aneh dan tak biasa memang. Terutama karena tanpa kita sadari sebenarnya kita telah lama "lupa" pada suasana kebangsaan dan kecintaan pada Indonesia. Mungkin suasana itu hanya kita alami terakhir kalinya saat masih duduk di sekolah menengah atas ... atau jangan2 saat kita masih di sekolah dasar. "Kita harus membudayakan hal ini karena mengingatkan kita akan kecintaan pada negeri, kebangsaan, serta rasa kebanggaan untuk membangun Indonesia lebih baik," jelas Pak Presiden Ruwi saat pertemuan dibuka.
Pelantikan teman kita Didi sebagai gubernur dan peresmian BT Sumbagut dilakukan pada bagian awal pertemuan. Didi yang selama ini kita kenal sebagai kawan yang sering bicara blak-blakan, ceplas-ceplos menyakitkan telinga (kadang juga hati), dan tidak sabaran itu dengan mantap mengatakan, "Yaa aku siap mengemban tugas itu!" Didi memang jarang terlihat ragu2. Ia adalah tipikal orang yang siap menerima tantangan. Mungkin juga ini adalah hasil dari tempaan selama berpuluh tahun hingga saat ini sebagai jagoan pendaki gunung, penempuh rimba, dan pecinta alam. Jangan sekali2 mencoba menantangnya untuk beradu kekuatan fisik. Ia adalah tipikal orang yang disiplin dalam hal menjaga kebugaran tubuh. Jangan pula coba beradu argumen logis dan matematis dengannya ... karena ia adalah master dalam bidang itu. Ssstt ... gossipnya Didi adalah jebolan Universiti Teknologi Malaysia (UTM), mirip dengan Noordin M Top hehehehe. Tapi Didi berbeda dengan Noordin. Noordin selalu dihubungkan dengan terorisme dan kelompok Jamaah Islamiyah. Sementara Didi dengan bangga selalu memproklamirkan diri sebagai bagian dari kelompok AUI (Asli Umat Islam) di Medan. Jadi memang tak ada kaitannya, dan jangan coba dikait-kaitkan tentunya. Demikian sekelumit tentang Zahedi "Didi" Charamsar Malley.
Tak salah memang kalau Didi hadir dalam pertemuan penting ini. Ketika ada pembicaraan soal kondisi internal keanggotaan dan target2 perkumpulan, beliau selalu berbicara lantang untuk memberi masukan, bahkan tak jarang mengkritik pedas. Dengan enteng beliau menantang semua yang hadir untuk secara serius memikirkan kata2 "gerakan, kedaulatan politik, kemandirian ekonomi, dan kemartabatan budaya". Maksudnya agar gerakan Telapak tak rancu dengan hal hanya memprioritaskan bagian "ekonomi" saja. Politik, ekonomi, dan budaya haruslah berjalan seimbang dalam sebuah gerakan. Ckckckckckckkk .... memang Abah si Badai dan Yasmine ini selalu jeli dalam menganalisis.
OKE lahh Oom Didi, selamat bertugas sebagai gubernur di Sumbagut. Tantangan ada di depan mata. Kau adalah pemimpin baru di teritori tersebut. Bahkan teritorinya juga masih baru. Jadi banyak peluang dan tantangan tentunya. Jangan lupakan kita2 para rakyat jelata yang juga kawanmu ini yaa?
gambar kartun di atas disadur dari aslinya di laman ini.
Senin, 27 Juli 2009
BT Jabar Go Blogging
Teman-teman yang baik,
Alhamdulillah, pada hari ini, Senin, 27 Juli 2009, Badan Teritori Telapak Jawa Bagian Barat resmi meluncurkan Blog-nya dengan alamat www.jawakulon.co.cc
Saya secara khusus berterimakasih kepada Om Dwi dan Om Oiek, sehingga pembuatan blog ini secara teknis terlaksana, dan secara substansi dibantu oleh Om Ndaru dan Om Ejhon.
Kepada seluruh anggota BT Jabar dan anggota Telapak di seluruh dunia, silahkan memanfaatkan blog ini menjadi tempat kita berinteraksi secara virtual, berbagi cerita, informasi, nyebarin undangan, ngajak ketemu, ngajak usaha, dll.
Selamat menikmati, semoga bermanfaat.
Salam,
M. Yayat Afianto
Kamis, 23 Juli 2009
Kumpul di Jawa Kulon
Alhamdulillaah ... akhirnya anggota2 Telapak di Jawa Barat, Banten dan DKI telah punya wadah kumpul baru bersuasana lokal. Wadah ini dibentuk dengan harapan dapat mengaktifkan anggota2 Telapak untuk berkontribusi langsung pada perubahan di sekitar wilayah tempat domisilinya masing2. Sebutannya keren punya ... badan teritorial. Pimpinan tertingginya (sebut saja) adalah "gubernur" yang saat ini dijabat oleh Yayat Afianto.
Minggu lalu, wadah baru ini sudah memulai mengaktifkan kegiatannya dengan berkumpul bersama di sepetak lapangan rumput di depan Sekretariat Telapak di Bogor. Sepetak lahan berumput yang tadinya dipenuhi dengan puntung rokok dan sampah itu telah berubah bersih. Para anggota Telapak di sekitar Bogor duduk berdiskusi ringan dan saling lempar canda. Lepas dan nyaman rasanya, hingga beberapa hal berhasil direncanakan. Diantaranya adalah:
Semoga semua hal yang telah dirembug itu bisa terlaksana.
Mari bangun wadah anggota ini. Inilah "saung kita", tempat kita beraktivitas sebagai anggota Telapak di wilayah Jawa Barat, Banten dan DKI. Mari masuk dan segera aktif ...
gambar kartun Asterix di atas diunduh dari sini




