ditulis oleh Rina Agustine
Pendidikan Koperasi kali ini merupakan lanjutan dan sudah mulai membahas penyusunan Rancangan Anggaran Dasar Koperasi di Cipeuteuy. Dan yang lebih menarik lagi pendidikan kali ini difasilitasi oleh perempuan-perempuan Telapak, ada Rainny, Dion, Septi dan saya sendiri. Rita, Nur Azhizah, Sudiyah dan Andi ikut serta dalam pendidikan malam itu.
Pertama, kita memaparkan kembali persyaratan yang harus dipenuhi dalam proses pembentukan Koperasi sebagai bahan untuk memulai diskusi. Bahwa Koperasi yang akan dibentuk harus berkedudukan di Indonesia, harus memiliki anggota minimal 20 orang, harus memiliki AD dan ART, harus memiliki Badan Hukum, harus memiliki perangkat organisasi.
Kemudian dilanjutkan dengan pembahasan Rancangan Anggaran Dasar yang bersifat prinsipil seperti penentuan nama Koperasi dan cakupan wilayah kerja koperasi. Usulan nama koperasi adalah KOPERASI BIBILINTIK – filosofinya adalah dimana sesuatu yang dari kecil berkembang menjadi sesuatu yang lebih besar (CMIIW). Selain itu, dibahas soal tujuan, peran serta usaha dari Koperasi tsb.
Pembagian kelompok menjadi 3 bagian pembahasan topik, yaitu Keanggotaan, kepengurusan dan modal usaha. Masing kelompok didampingi oleh Telapak. Pembagian kelompok ini diharapkan juga bisa merangsang mereka mengeluarkan pendapatnya.
Hasil diskusi tsb dikompilasi dan akan di-sharing ke seluruh warga masyarakat Desa Cipeuteuy yang akan bergabung kelak ke KOPERASI BIBILINTIK untuk mendapatkan masukan kemudian dibahas di pertemuan berikutnya.
Rabu, 01 Juni 2011
Srikandi Koperasi in action di Cipeuteuy
Kamis, 30 Desember 2010
Berdamai dengan warga kampung
Pagi ini, tepat pukul 10.00 telah terjadi sebuah perhelatan sederhana. Beberapa orang duduk bersila di beranda rumah sederhana milik seorang warga kampung. Hidangan sederhana ala kampung menjadi jamuannya. Sebagian dari mereka berpakaian seragam warna khaki dengan emblem di bahunya. Sebagian lagi terlihat berpakaian biasa. Sekalipun berbeda model pakaiannya, tak terlihat adanya perbedaan kasta ataupun tingkatan martabat diantara mereka. Mereka terlihat seimbang dalam posisi berbicara tanpa ada salah satu pihak yang ingin mengalahkan atau menguasai pembicaraan.
Mereka yang berseragam adalah para pegawai Taman Nasional Gunung Gede-Pangrango yang mengelola sebagian besar wilayah hutan di sekitar tempat itu. Sementara itu yang berpakaian biasa adalah para warga kampung yang juga anggota koperasi petani hutan setempat.
Dari percakapan mereka, tak banyak hal yang dibahas. Mereka hanya bercakap seputar bantuan dan kerjasama desa konservasi di wilayah tersebut. Sekalipun demikian, acara ini menjadi tonggak penting bagi kedua belah pihak yang hadir untuk memulai upaya kerjasama jangka panjang.
Taman Nasional Gunung Gede-Pangrango (TNGGP) telah bersepakat untuk memberikan bantuan ternak kambing, ayam, serta lebah madu kepada warga Kampung Ciwaluh, Desa Wates Jaya, Kecamatan Cigombong, Kabupaten Bogor. Bantuan ini diformalkan dalam bentuk kesepakatan kerjasama antara TNGGP dengan Koperasi Ciwaluh. Pihak TNGGP diwakili oleh Kepala Bidang TN Wilayah III Bogor, Ir. Harianto MSc. Sementara itu Bapak Apud sebagai Ketua Koperasi Ciwaluh turut menandatangani kesepakatan tersebut. Selain kedua penandatangan kesepakatan, Ibu Sulastri, Kepala Desa Wates Jaya juga hadir sebagai saksi resmi. Penandatanganan kesepakatan kerjasama ini juga dihadiri oleh Perkumpulan Telapak, melalui Badan Teritori Jawa Bagian Barat. Telapak diundang hadir karena dianggap telah cukup lama melakukan kegiatan pendampingan para warga Kampung Ciwaluh melalui usaha budidaya tumbuhan herbal.
Akhir-akhir ini Ciwaluh memang telah banyak berubah. Kampung terpencil di ujung desa itu kini telah menjadi kampung andalan. Koperasi Ciwaluh yang notabene anggotanya adalah para petani setempat telah menjadi tulang-punggung perekonomian di sana. Koperasi ini bahkan telah cukup sukses mengembangkan usaha budidaya beberapa jenis tumbuhan herbal, seperti Kumis Kucing (Orthosiphon sp.). Bahkan koperasi ini juga telah beberapa kali memasok produk herbal ke pasar domestik dan internasional. Kerja keras para warga kampung Ciwaluh telah berbuah manis. Mereka yang tadinya kerap berseteru dengan pihak TNGGP, kini telah dianggap sebagai mitra kerja taman nasional.
Pihak TNGGP yang jadi pengelola kawasan hutan di wilayah ini juga telah banyak berubah. Mereka tidak lagi menganggap warga Ciwaluh sebagai perusak hutan. Kesadaran bahwa upaya menjaga dan melestarikan hutan harus dilakukan bersama warga setempat juga mulai tumbuh. Jika dulu warga kampung selalu dituduh, kini TNGGP telah berdamai dengan mereka.
Bantuan ternak dan kesepakatan kerjasama ini mirip seperti sebuah traktat perdamaian. Semoga masing2 pihak tidak lagi saling bermusuhan dan melanggar kesepakatan tersebut. Semoga warga Kampung Ciwaluh pada akhirnya dapat menerima manfaat terbesar dari segala potensi kekayaan alam di wilayah ini. Dan semoga hutan2 yang tersisa di TNGGP pun dapat lestari.
Rabu, 15 Desember 2010
Jangan jadi koperasi pedati atau merpati
Tidak sengaja saya terdampar dalam sebuah diskusi santai bersama orang2 kampung yang sederhana. Seorang kawan baik mengajak (dengan sedikit bujuk rayu) agar saya bisa terlibat dalam acara urun rembug ini. Jelas saja undangannya tidak bisa mampu saya tolak, walau jaraknya muskil ditempuh dengan hanya mengayuh sepeda.
Kawan ini tinggal dan berkarya di Lampung. Bersama beberapa kawannya yang lain, ia berupaya membangun sebuah koperasi masyarakat pengelola hutan di Kabupaten Lampung Tengah. Agak berlebihan memang jika saya yang tak paham berkoperasi ini diundang untuk terlibat dalam urun rembug pembentukan koperasi tersebut. Syukurlah acaranya dikemas dengan santai dalam suasana kesederhanaan kampung Jawa/Sunda perantauan di Desa Gunung Aji, Kecamatan Pubian. Suasana santai serta kesederhanaan ini lah yang pada akhirnya mendongkrak rasa percaya diri saya.
Yang saya pahami tentang koperasi, apa pun bentuknya itu, adalah sebuah unit usaha yang dibangun untuk memberikan keuntungan bagi para anggotanya. Dalam kesederhanaan berpikir saya koperasi tentunya harus dibangun, dimiliki, dikelola, dan memberikan manfaat maksimal bagi para anggotanya. Sayangnya niat dan cita-cita luhur tersebut biasanya tidak terwujud nyata. Banyak sekali koperasi yang pada akhirnya menjadi bangkrut, tutup buku, dan hilang begitu saja. Hanya sedikit rasanya lembaga koperasi yang tetap bertahan dan bahkan mencapai cita-citanya mensejahterakan seluruh anggota. Ada banyak hal yang disinyalir menjadi penyebab ketidaksuksesan pembentukan koperasi ini. Penyebab yang sering saya dengar adalah kurangnya permodalan, anggota tidak aktif, pengurusnya korupsi, kemampuan manajerial yang rendah, hingga terbelit dalam masalah hutang-piutang. Seluruh cerita inilah yang membuat saya menjadi loyo dan ragu-ragu ketika orang mengajak saya membicarakan pengembangan koperasi. Saya biasanya menjadi takut dan tidak percaya diri.
Saya duduk bersila di lantai sebuah rumah warga di Kampung Umbul Mesjid, Desa Gunung Aji. Para warga yang hadir adalah orang-orang kampung biasa dari beberapa desa di Kecamatan Pubian. Mereka tidak tampak seperti para pemuka kampung. Pakaian dan cara berbicaranya begitu sederhana dan biasa saja. Mereka berbicara dengan selingan bahasa Jawa dan bahasa Sunda yang kental. Wajar sekali karena mereka ini memang adalah para migran dari Jawa dan dari tanah Sunda. Sebagian lagi adalah orang2 yang kerap dijuluki Pujakesuma (putra jawa/sunda kelahiran sumatera).
Kawan saya mengawali pertemuan dengan semangat dan keyakinan tinggi. Ia menjelaskan perihal koperasi yang ingin dibangun. Sebuah koperasi yang akan memberikan manfaat ganda bagi para petani hutan di Kecamatan Pubian. Koperasi ini ditujukan untuk dapat meningkatkan kesejahteraan ekonomi dalam bentuk menjual produk hasil hutan. Sementara di sisi lain juga akan ditujukan untuk menyelamatkan fungsi ekologis kawasan hutan dan kebun hutan yang dikelola oleh warga setempat. Sungguh sebuah tujuan yang saya anggap sangat mulia.
Uraian kawan saya ini ternyata mendapat sambutan yang sangat baik dari para warga yang hadir. Dua orang peserta diskusi yang saya kenal sebelum acara ini, bahkan begitu yakin akan keberhasilan koperasi yang dicita-citakan tersebut. Secara kebetulan mereka berdua adalah petani hutan dari Desa Pekandangan yang telah lama berbagi mimpi dengan kawan saya tadi. Sementara para warga lainnya pun begitu antusias dengan rencana ini. Begitu antusiasnya hingga akhirnya diskusi lesehan berlanjut menjadi diskusi penyusunan usulan awal koperasi petani hutan. Selepas makan siang, kami semua segera pindah tempat ke sebuah ruang kelas di madrasah ibtidaiyah. Di sinilah akhirnya para peserta menuangkan seluruh energinya untuk menyepakati pembentukan koperasi. Ruang kelas itu menjadi saksi sejarah terbangunnya “Koperasi Wana Tirta”. Sebuah koperasi bagi para petani hutan yang diawali dari Kecamatan Pubian. Koperasi ini bertujuan mengelola kawasan hutan dan kebun hutan serta hasil bumi yang ada, baik berupa kayu maupun produk-produk hasil hutan non kayu.
Kemarau panjang keraguan saya rasanya menjadi hilang oleh hujan antusiasme warga kampung untuk membentuk Koperasi Wana Tirta. Mungkin karena saya berpikir terlalu rumit. Mungkin juga karena saya terlalu terbebani dengan contoh-contoh kegagalan koperasi selama ini. Para warga kampung itu telah merubah keyakinan saya. Saya masih ingat komentar seorang peserta diskusi yang sangat inspiratif bernama Pramono dalam diskusi itu. Begitu menggugah, walau keluar dari bibir seorang yang tampak sederhana (seperti pada gambar). Demikian komentar Pak Pramono:Koperasi itu ada 3 jenis. Ada yang disebut koperasi merpati, yang hanya hidup dan bergerak ketika ada suntikan dana dari pihak luar. Ada yang disebut koperasi pedati, yang hanya bergerak ketika ada dorongan semangat dari pihak luar. Dan yang ketiga adalah koperasi sejati, yang dapat bergerak sendiri berdasarkan keatifan dari para anggotanya. Koperasi sejati inilah yang harus kita bangun, jangan seperti pedati maupun merpati.
