Kala itu, waktu masih belum berkeluarga, saya pernah mengunjungi wilayah ini. Sebuah wilayah yg dikenal dengan Kasepuhan Banten Kidul. Seperti namanya, wilayah adat ini dianggap berumur tua. Sehingga wilayah ini jadi tempat meminta nasihat dan saran, terutama bagi orang Sunda. Meski demikian terkadang orang2 yg datang juga "minta yg aneh2" seperti minta kesembuhan dari penyakit, mengadu nasib, lancar jodoh dsb dsb. Aneh memang ... padahal tak satu pun papan nama yg terpampang menyebutkan adanya "dukun" di kasepuhan ini.
Saat datang pertama kali, saya bersama teman2 di Telapak berada di sini untuk mencari keberadaan burung elang asli Pulau Jawa. Nama ilmiahnya adalah Spizaetus bartelsi atau dalam bahasa Inggris disebut Javan Hawk-eagle. Nama lokalnya sendiri berbeda2 tergantung dimana ia berada. Ada yg menyebutnya Elang Jawa, Heulang Jambul, dsb dsb. Burung ini memang unik karena memiliki bulu jambul yang panjang di kepalanya. Dengan jambul tsb, burung ini terlihat gagah seperti Garuda.
Kasepuhan Banten Kidul berada di bagian selatan kawasan Taman Nasional Gunung Halimun-Salak. Secara administratif wilayah ini berada di wilayah Kabupaten sukabumi. Saat pertama datang, ibukota kasepuhan ini berada di Ciptarasa. Kasepuhan ini dipimpin oleh orang yg dijuluki Abah, namanya Abah Encup Sucipta.
Sekarang, jaman sudah berubah, maklum sudah lebih dari 14 tahun yang lalu saat saya datang dulu. Abah Encup sudah meninggal duniah dan digantikan oleh puteranya, yaitu Abah Ugi. Ibukota pemerintahan pun sudah dipindahkan setelah sebelumnya Abah Encup mendapatkan wangsit dari leluhurnya. Kepindahan ibukota ini terjadi pada tahun 2001, dari Ciptarasa ke Ciptagelar, atau disebut juga Kampung Cicemet yang berjarak sekitar 10 km menembus hutan. Komunitas adat ini memang selalu berpindah tempat tergantung wangsit yg diterima. Dulu sekali bahkan kasepuhan ini pernah berpusat di daerah Leuwiliang, Bogor.
Kebetulan sekali saya mendapat kesempatan untuk berkunjung kembali ke wilayah kasepuhan ini. Saya bersama 2 orang teman lagi mengantarkan Pak Asuy (asal Muara Tae, Kaltim) yg ingin berkonsultasi secara spiritual dengan Abah Ugi. Dalam hati saya juga bersyukur karena bisa dapat kesempatan untuk bernostalgia mengingat tempat dan saat2 saya masih muda dulu ... hehehe.
Empat belas tahun berselang ternyata tidak banyak yg berubah dari komunitas adat Kasepuhan Banten Kidul. Warga setempat berhasil mempertahankan kekuatan adat yg diwariskan dari para leluhur Pajajaran.Wis 14 tahun lewat ternyata komunitas adat Kasepuhan Banten Kidul ini nyaris tak berubah. Mereka terbukti berhasil mempertahankan kekuatan adatnya sing diwarisi soko leluhur Pajajaran.Ibukota kasepuhan memang telah berkembang dengan teknologi maju. Listrik tersedia 24 jam dari turbin mikrohidro. Signal HP tinggal pilih, mau pakai Telkomsel atau ProXL. Dalam radius sekitar 4 kilometer dari pusat kota tersedia fasilitas WIFI gratis. Ada sebuah stasiun televisi yg beroperasi selama 24 jam, namanya CIGATV atau Ciptagelar TV. Sudah banyak sepeda motor dan ada mobil 4WD. Namun hal itu semua tidak membuat warga kasepuhan jadi bergantung secara berlebihan pada modernisasi dan teknologi.
Hampir setiap laki2 selalu menggunakan ikat kepala atau udeng. Sementara kaum perempuan mengenakan kain bermotif batik (jarik/jarit). Hampir semua orang memiliki sawah atau juga ladang (huma) untuk ditanami padi. Hampir semua kepala keluarga memiliki lebih dari satu lumbung padi (leuit). Rumah2 masih berdinding bilik bambu dan beratapkan ijuk dari pohon enau. Walaupun sudah banyak yg mengenal bahasa Indonesia, namun Bahasa Sunda menjadi bahasa utama yg dipergunakan di sini. Acara2 adat seperti Seren Taun juga masih dilakukan setiap tahunnya. Kesenian tradisional yg asli berikut alat musiknya juga masih dipertahankan.Bagi saya, berkunjung (kembali) ke kawasan adat kasepuhan ini rasanya seperti kembali ke kampung halaman. Warga setempat sangat baik dan ramah. Kami disajikan makanan yg organik yang sehat. Meminum kopi nikmat. Tidur pun bisa pulas. Kami bisa menghirup udara sejuk dan segar yang bebas polusi industri dan kendaraan bermotor. Airnya bening, segar, sejuk dan berlimpah ruah. Betul2 menyenangkan. Menginap 2 malam di Ciptagelar rasanya telah mampu menghilangkan kepenatan bekerja di kantor selama ini. Badan terasa sehat dan pikiran pun fresh!!
Kembali pulang ke Bogor, saya merasakan ada hal yg hilang. Ciptagelar memang telah membuat rasa rindu. Ingin rasanya saya kembali datang ke sana, walau saya sendiri tak tahu kapan waktunya ...
posting serupa, namun dalam bahasa saya sendiri, juga dapat dibaca pada laman SumukraKringeten
Tampilkan postingan dengan label Organik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Organik. Tampilkan semua postingan
Rabu, 07 Desember 2011
Ciptagelar: Mengunjungi Kasepuhan Banten Kidul
Jumat, 28 Mei 2010
Petani Pohpohan di Gunung Salak
Pernah makan lalap daun Pohpohan? Di Bogor tentu tidak sulit untuk mendapatkan lalapan jenis ini. Banyak warung nasi yang menyediakan pohpohan sebagai salah satu menu yang dihidangkan di atas meja. Kala lewat tengah malam pernahkah sesekali main ke pasar Bogor? Diantara begitu banyak jenis sayuran yang ada akan terlihat pohpohan yang diikat rapi menjadi ikatan-ikatan kecil. Ada yang dibawa dengan becak atau yang sudah siap beredar diatas gerobak penjual sayur keliling. Atau yang masih berupa ikatan-ikatan besar yang baru tiba dari desa. Biasanya pick-up atau angkot menjadi alat transportasi yang digunakan. Dari mana datangnya?Coba deh main ke kampung Calobak, salah satu kampung di bagian Utara kaki Gunung Salak. Daerah ini tidak terlalu jauh dari pusat kota Bogor, lewat jalan ke arah Ciapus kemudian kita akan sampai di desa Tamansari. Melalui belokan SMA Tamansari kearah atas kita akan sampai di kampung Calobak. Di kampung ini terdapat kelompok tani Pohpohan yang di ketuai oleh Pak Wardi. Mereka melakukan praktek sistem pertanian organik. Pupuk kandang menjadi pilihan para petani sebagai sumber unsur hara bagi tanaman pohpohan yang mereka tanam. Jika kita masuk ke areal garapan mereka akan terasa teduh. Tidak seperti lahan pertanian yang pada umumnya terbuka bermandikan sinar matahari. Karena tanaman herba yang biasa dijadikan lalapan ini gampang hidup jika tidak terkena sinar matahari secara langsung, ternaungi oleh pohon-pohon yang tinggi.
Disini pada awalnya Pohpohan tumbuh liar di hutan dan di sekitar kebun pekarangan rumah penduduk. Baru pada tahun 1991 mereka mulai mencoba memeliharanya secara tumpang sari di kaki gunung di atas kampung mereka. Dengan adanya program Pengelolaan Hutan Bersama Masyarakat (PHBM) yang dikembangkan oleh Perum Perhutani Unit III, mereka kemudian membentuk kelompok Tani Hutan (KTH) Mekarsari. Kelompok tani tersebut mengelola lahan di bawah tegakan damar (Agathis damara), pinus (Pinus merkusii) dan afrika (Meiopsis manii) di kawasan yang waktu itu masuk dalam wilayah kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Bogor. “kami bersama warga kampung naik keatas, mengadakan upacara adat di pinggir sungai Ciapus” ucap pak Wardi menceritakan awal pembentukan kelompok.
Setiap habis panen, mereka menjual hasil panen kepada para tengkulak yang ada di kampung. Kepada mereka para petani percaya untuk dapat menampung (membeli) ikatan demi ikatan pohpohan yang mereka pikul. Menurut para petani, dahulu sempat ada koperasi yang coba menampung pohpohan dari para petani di sini. Tetapi koperasi tersebut tidak bertahan lama karena tidak mampu menjual hasil panen mereka. ”Mereka kewalahan untuk memasarkan” ucap seorang petani. Oleh karena itu koperasi ini hanya mampu bertahan beberapa bulan. Untuk itu peran dalam hal pemasaran mereka percayakan kepada para tengkulak. Mereka menampung dan menjual hasil panen para petani melalui relasi mereka yang ada di pasar. Ada sekitar 10 tengkulak yang sering menampung dan sebagian besar adalah warga kampung sendiri. Setiap tengkulak biasanya mampu menampung hasil panen dari 5-10 orang petani. Meskipun demikian tidak ada ikatan khusus antara petani dengan tengkulak. Mereka bebas menjual kemana saja hasil panen mereka. Kadang seorang petani menjual hasil panennya ke-lebih dari satu orang tengkulak. Namun biasanya mereka sudah punya langganan tetap yang sudah mereka percaya.
Pohpohan telah menjadi bagian dari kehidupan warga kampung Calobak dan sekitarnya. Menjadi komoditi yang diandalkan oleh warga kampung untuk menjadi sumber penghidupan dijaman yang kian susah. Ada sekitar 80-an keluarga yang hidup kesehariannya mengharapkan hasil dari bertani pohpohan. Maka ketika tahun 2003 pemerintah mengeluarkan kebijakan yang merubah fungsi kawasan tersebut dari fungsi produksi menjadi fungsi konservasi, sempat membuat mereka merasa resah. Tentu saja... mereka yang telah menjadi bagian dari program PHBM-nya pemerintah tersebut dihadapkan pada situasi transisi... tanpa kepastian. Hak akses mereka ke lahan garapan terancam. ”Asal gak nebang pohon, gak pa pa kok pak” kata pak Wardi si bapak ketua kelompok tani.Mudah-mudahan mereka terus dapat melanjutkan aktifitas mereka sebagai petani. penetapan zona khusus oleh taman nasional bisa menjadi ruang bagi mereka. Apalagi peraturan Menteri Kehutanan Nomor P.56/2006 tentang Zonasi Taman Nasional memungkinkan mengakomodir keterlanjuran kebijakan pemerintah akibat alih fungsi hutan produksi/lindung. Sehingga hak akses berupa pinjam pakai kawasan termasuk PHBM yang dulu diberikan masih dapat dilanjutkan. Huuh.. jangan terjebak dalam kekakuan wacana hukum positif yang merupakan produk politik. Bagaimanapun juga petani pohpohan adalah warga negara yang sah sehingga memiliki hak dasar untuk dapat mengakses sumber penghidupan mereka.
Selengkapnya ...
Langganan:
Postingan (Atom)
