Tampilkan postingan dengan label News. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label News. Tampilkan semua postingan

Rabu, 18 April 2012

Starving ... (Abu)

Entah apa sebabnya hari ini ada kejadian menarik yang tampaknya pas jadi diceritakan.  Dua orang teman dari Telapak datang berboncengan sepeda motor ke kantor saya.  Tampang keduanya terlihat lusuh dan kuyu seperti habis bekerja keras menjadi kuli panggul.

Walau keduanya berparas kuyu, namun saya lebih tertarik mengulas salah seorang diantaranya.   Sebutlah namanya Abu.  Menilik perawakannya, si Abu adalah orang yg cukup berkecukupan dalam hal asupan gizi, bahkan mungkin berlebihan (sedikit di bagian perut ... hehehe).  Selama ini saya mengenalnya sebagai orang yg selalu tampil riang dengan wajah segar. Tapi kali ini penampilannya sungguh berbeda. Bukan berbeda dalam hal pakaian yg dikenakan.  Tapi berbeda dalam emosi dan mimik muka.  Ia terlihat lelah, dan kelaparan.


Waaahh ... kelaparan??  Bagaimana mungkin hal ini bisa terjadi?  Namun begitulah kejadian sore hari pukul 16.30 di kantor saya ini.  "Aku lapar sekali Paak ... udah lama menahan rasa lapar ini.  Mau beli di restoran terdekat, harganya mahal, untung aku dapat makan siang di sini!" demikian ungkap si Abu sambil terus saja mengunyah makan siangnya yg terlambat.  Kebetulan sekali di kantor saya disediakan makan siang.  Dan jika jumlah makan siangnya berlebih karena ada yg tidak makan di kantor seperti hari ini, maka siapa saja bisa memakannya.

Hari memang sudah sore.  Saat saya mengintip ke luar jendela, terlihat cahaya jingga menyeruak pertanda hari memang menjelang petang.  Dan beberapa menit kemudian Abu pun terlihat mulai tenang.  Rupanya ia telah menghabiskan makan siangnya yg terlambat.

Saya tak ingin mencari tahu lebih jauh mengapa kawan saya Abu kelaparan spt ini.  Mungkin saja ia tidak menemukan makan siang yang harganya sesuai dengan isi kantongnya.  Mungkin semenjak pagi ia sebenarnya sudah berniat untuk puasa, namun di tengah perjalanan ia tak mampu menahan lapar.  Atau bisa jadi ia sedang mencoba utk melakukan diet, namun simpanan energi di tubuhnya tak cukup membuat ia bertahan hingga makan malam.  Ahhh sudah lahh ... yg sore ini ada sebuah cerita tentang "si Abu yang Kelaparan".

Abuu .... Abu ... kasihan deh Luu ....!!!

Selengkapnya ...

Senin, 05 Juli 2010

Harapan bagi nelayan di Laut Arafura?

“Ooh banyak sekali itu Pa …!!!” begitu jawab seorang nelayan dari Desa Rumbati, Kabupaten Fakfak ketika saya tanyakan apakah beliau tahu tentang kapal besar penangkap ikan di sekitar wilayah petuanan adat mereka. Bapak tua tersebut lalu menambahkan, “Kalo su musimnya, dong kumpul banyak sekali di depan Pulau Pisang. Dong macam pasar saja. Bisa ada 20-30 kapal di sana. Dong ambil semua ikan yang ada sampai dekat-dekat di pantai”.

Pulau Pisang memang jadi ajang rebutan. Nelayan tradisional dari Desa Rumbati yang notabene adalah pemilik petuanan adat di sana dipaksa menyingkir pelan2 dari sana. Tuan rumah tak mampu jadi tuan di perairan tersebut. Tamu yang datang telah dipermudah sedemikian rupa hingga tak lagi menyisakan ikan bagi sang pemilik rumah. Ketika para tuan rumah ini protes dan berusaha minta pertolongan pada aparat kepolisian dan dinas perikanan setempat, hasilnya tetap dikalikan dengan angka ‘nol’. Hampir tak pernah ada laporan yang ditindaklanjuti hingga mengurangi aktivitas kapal2 pendatang yang menangkap ikan di sana. Nelayan Rumbati hanya bisa pasrah dengan keadaan tersebut.

Demikian sekelumit cerita tentang nelayan kecil di pesisir barat Papua. Wilayah petuanan laut mereka kebetulan berada di wilayah laut yang banyak diincar kapal2 pencari ikan, yaitu Laut Arafura. Tak hanya kapal2 Bugis yang datang ke tempat itu. Kapal2 besar penangkap ikan milik perusahaan2 besar pun beroperasi di sana. Bahkan mereka juga ada yang datang dari luar negeri seperti China.


Terkait dengan hal tersebut, hari ini Telapak mengeluarkan sebuah siaran pers yang membahas soal pemberlakuan moratorium (penghentian sementara) ijin baru penangkapan ikan dan beberapa alat tangkap serta alat bantu penangkapan ikan. Secara khusus aturan Pemerintah yang baru 3 bulan terbit itu menyebut soal Laut Arafura. Sekilas aturan tersebut terkesan akan memberi tiupan udara sejuk bagi nelayan tradisional di Fakfak. Namun, mengingat seringnya terjadi pelanggaran atas aturan penangkapan ikan di laut Indonesia, bukan tidak mungkin aturan baru ini hanya akan jadi ‘macan kertas’ saja. Pengawasan secara serius atas pelaksanaan atuan sangat2 dibutuhkan. Tidak hanya asal aturan. Telapak bersama dengan para pengamat perikanan di Indonesia mengingatkan hal tersebut melalui siaran pers itu.

Semoga saja … kekhawatiran tersebut pada akhirnya tidak terwujud nyata …

Jika ingin membaca siaran pers-nya, silakan klik pada alamat berikut

Selengkapnya ...

Senin, 12 April 2010

Berganti kepala

Walau agak terlambat, namun tak ada salahnya jika redaksi Jawa Kulon mengabarkan perubahan ini. Sejak tanggal 1 April 2010 lalu, Badan Teritorial Telapak di wilayah Jawa bagian Barat telah berganti kepala. Sang gubernur lama, Oom Yayat pindah tugas di pabrik konservasi lain. Pejabat penggantinya sudah ditunjuk ... kali ini adalah seorang ibu. Gimana rasanya yaa? Hmm pasti suasananya jadi lain. Sentuhan kewanitaan tentunya akan menambah semarak badan teritorial ini.

Siapa sang gubernur baru ini?
Nama beliau sebenarnya sudah tidak asing lagi bagi kita. Sebelumnya beliau menjabat sebagai Direktur PT Poros Nusantara Utama Jawa Barat. Sebuah perusahaan yang mengurusi perdagangan tumbuhan herbal dan organik. Rasanya tak perlu menjelaskan lebih jauh soal siapa beliau, karena semua juga tahu namanya adalah Rina Agustine, yang akrab disapa "Mamat" (baca: Mama Matthew) oleh sang suami. Beliau adalah penggemar kucing dan anjing, jadi bisa dibayangkan betapa lembutnya hati beliau.

Lalu bagaimana dengan para penggemar fotografi, pengamat satwa dan pendukung comlog? Tak perlu khawatir lah. Soalnya Oom Yayat juga tidak pergi jauh koq. Beliau cuma pindah tugas saja dan masih berdomisili di Bogor. Otomatis beliau masih bisa sering2 ketemu dengan kita-kita. Bukan begitu Oom?

Dan akhirnya ... mari kita dukung penuh kepemimpinan Ibu Rina di Jawa Bagian Barat ini. Tak lupa pula, mari kita ucapkan terima kasih atas kepemimpinan sebelumnya dari Oom Yayat, serta selamat dan sukses di pabrik konservasi yang baru.

foto Oom Yayat diunduh dari aslinya di sini, sementara foto Ibu Rina kami dapatkan dengan ijin langsung dari sang suami (plus bantuan "sotoshop").

Selengkapnya ...

Senin, 31 Agustus 2009

Kenapa orang lebih pilih gunduli hutan untuk kertas?

Entah kenapa pertanyaan ini selalu menganggu benakku. Tapi kejadian demi kejadian selalu saja berulang di mana2. Orang lebih mementingkan untuk menghasilkan kertas banyak2 dan mengkonsumsinya banyak2 tanpa harus mempedulikan beribu juta hektar hutan yang habis digunduli. Lebih parah lagi penggundulan hutan tersebut tak hanya berdampak pada penggurangan besar2an keanekaragaman hayati dan jutaan ton gas rumah kaca, namun juga menafikan niat baik dari warga desa untuk melestarikan hutannya sendiri.

Sungguh ironis ...

Untuk kesekian kalinya warga desa di sekitar ekosistem rawa gambut Semenanjung Kampar dipaksa gigit jari. Niat baik mereka utk memenuhi dorongan mengembangkan hutan desa harus berhenti karena kawasan hutan tersebut lebih dipilih penguasa dan pengusaha utk dijadikan kebun akasia (acacia).

Semuanya hanya untuk dirubah menjadi sumber bahan baku kertas. Warga desa tak boleh mengembangkan upaya pengelolaan hutan lestari. Tak boleh juga mereka punya lubuk2 ikan air tawar yang memberi manfaat ekonomi bagi seluruh kampung. Apalagi jika mereka harus mengembangkan pemanfaatan kayu hutan alam bernilai tinggi di sana.



Adalah sebuah desa kecil di Kecamatan Teluk Meranti, Kabupaten Pelalawan, Riau yang
dipaksa menjadi wilayah Hutan Tanaman Industri (HTI) Kertas. Desa itu bernama Teluk Binjai. Sebuah desa yang warganya telah beradaptasi puluhan tahun dengan situasi ekosistem hutan rawa gambut.

Mereka inginkan hutan di wilayah desa mereka menjadi lebih bermanfaat secara ekonomi dan ekologis. Status kawasan hutan desa menjadi pilihan mereka. Mereka membayangkan kawasan itu menjadi sentra produksi ikan air tawar. Mereka juga membayangkan kawasan hutan itu menjadi kawasan perlindungan bagi pohon2 bernilai tinggi dan terancam punah seperti Ramin (Gonystylus bancanus). Mereka juga ingin ikut berkontribusi pada upaya menjaga agar kawasan gambut itu tidak menjadi kering dan rawan kebakaran hutan.

Tapi apa daya, sebuah perusahaan besar kertas telah mendapat restu dari Pemerintah utk merubah hutan gambut tersebut menjadi HTI. Rupanya produk kertas yang sebagian besar dikonsumsi masyarakat negara Eropa, Amerika dan Jepang lebih berharga dibandingkan nasib para warga kampung kecil di Semenanjung Kampar itu. Bukankah itu adalah sebuah "kedzaliman"?

Tulisan ini adalah ungkapan perasaan saya atas warga Desa Teluk Binjai seperti yang ditulis dalam Siaran Pers Perkumpulan Telapak dan Yayasan Mitra Insani hari ini.

gambar di atas diunduh dari aslinya di laman ini.

Selengkapnya ...

Rabu, 12 Agustus 2009

Teritori baru, gubernur baru

Bogor, 11 Agustus 2009. Seakan tak ingin tertinggal dengan pembentukan propinsi dan kabupaten baru di Indonesia, hari ini Perkumpulan Telapak meresmikan terbentuknya sebuah badan teritori baru di bumi Nusantara. Badan teritori yang mencakup wilayah Aceh hingga ke Riau tersebut dinamakan BT Sumbagut (sumatera bagian utara). Seiring dengan terbentuknya badan teritori baru, dilantik pula teman kita Zahedi Charamsar Malley alias "Didi" untuk menjadi ketuanya.




Peresmian badan teritori Telapak dan gubernur [baca: ketua BT] baru ini dilakukan dalam sebuah acara pertemuan resmi antara BPP, Kabinet, dan seluruh Ketua Badan Teritori. Dalam pertemuan ini, untuk pertama kalinya dinyatakan secara resmi bahwa setiap acara2 resmi Anggota Telapak dibuka dengan menyanyikan Lagu Indonesia Raya dan ditutup dengan Lagu Padamu Negri serta do'a. Terasa aneh dan tak biasa memang. Terutama karena tanpa kita sadari sebenarnya kita telah lama "lupa" pada suasana kebangsaan dan kecintaan pada Indonesia. Mungkin suasana itu hanya kita alami terakhir kalinya saat masih duduk di sekolah menengah atas ... atau jangan2 saat kita masih di sekolah dasar. "Kita harus membudayakan hal ini karena mengingatkan kita akan kecintaan pada negeri, kebangsaan, serta rasa kebanggaan untuk membangun Indonesia lebih baik," jelas Pak Presiden Ruwi saat pertemuan dibuka.

Pelantikan teman kita Didi sebagai gubernur dan peresmian BT Sumbagut dilakukan pada bagian awal pertemuan. Didi yang selama ini kita kenal sebagai kawan yang sering bicara blak-blakan, ceplas-ceplos menyakitkan telinga (kadang juga hati), dan tidak sabaran itu dengan mantap mengatakan, "Yaa aku siap mengemban tugas itu!"
Didi memang jarang terlihat ragu2. Ia adalah tipikal orang yang siap menerima tantangan. Mungkin juga ini adalah hasil dari tempaan selama berpuluh tahun hingga saat ini sebagai jagoan pendaki gunung, penempuh rimba, dan pecinta alam. Jangan sekali2 mencoba menantangnya untuk beradu kekuatan fisik. Ia adalah tipikal orang yang disiplin dalam hal menjaga kebugaran tubuh. Jangan pula coba beradu argumen logis dan matematis dengannya ... karena ia adalah master dalam bidang itu. Ssstt ... gossipnya Didi adalah jebolan Universiti Teknologi Malaysia (UTM), mirip dengan Noordin M Top hehehehe. Tapi Didi berbeda dengan Noordin. Noordin selalu dihubungkan dengan terorisme dan kelompok Jamaah Islamiyah. Sementara Didi dengan bangga selalu memproklamirkan diri sebagai bagian dari kelompok AUI (Asli Umat Islam) di Medan. Jadi memang tak ada kaitannya, dan jangan coba dikait-kaitkan tentunya. Demikian sekelumit tentang Zahedi "Didi" Charamsar Malley.

Tak salah memang kalau Didi hadir dalam pertemuan penting ini. Ketika ada pembicaraan soal kondisi internal keanggotaan dan target2 perkumpulan, beliau selalu berbicara lantang untuk memberi masukan, bahkan tak jarang mengkritik pedas. Dengan enteng beliau menantang semua yang hadir untuk secara serius memikirkan kata2 "gerakan, kedaulatan politik, kemandirian ekonomi, dan kemartabatan budaya". Maksudnya agar gerakan Telapak tak rancu dengan hal hanya memprioritaskan bagian "ekonomi" saja. Politik, ekonomi, dan budaya haruslah berjalan seimbang dalam sebuah gerakan. Ckckckckckckkk .... memang Abah si Badai dan Yasmine ini selalu jeli dalam menganalisis.

OKE lahh Oom Didi, selamat bertugas sebagai gubernur di Sumbagut. Tantangan ada di depan mata. Kau adalah pemimpin baru di teritori tersebut. Bahkan teritorinya juga masih baru. Jadi banyak peluang dan tantangan tentunya. Jangan lupakan kita2 para rakyat jelata yang juga kawanmu ini yaa?

gambar kartun di atas disadur dari aslinya di laman ini.

Selengkapnya ...

Minggu, 29 Maret 2009

Pertanyaan untuk Wishnu Tirta Direktur Utama PT. Poros Nusantara Utama

Wisnu TirtaKelola SDA Berbasis Komunitas
Kita pasti sering mendengar, melihat, atau bahkan merasakan dampak buruk yang ditimbulkan oleh pembangunan perusahaan pengelola Sumber Daya Alam (SDA). Misalnya, perusahaan pengelola kayu yang dengan seenaknya menebangi pohon tanpa memikirkan dampak buruk yang ditimbulkan. Orientasi mereka yang hanya ingin mengejar keuntungan, sering kali membuat masyarakat sekitar kena getahnya. Masyarakat bukannya untung dengan kehadiran perusahaan tersebut, malah buntung. Itulah fenomena yang terjadi dewasa ini.

Kondisi tersebut tidak mau ditiru oleh PT. Poros Nusantara Utama. Direktur utama PT. Poros Nusantara Utama, Wishnu Tirta, mengatakan, perusahaannya menerapkan sistem pengelolaan berbasis komunitas dalam mengelola SDA. Apa yang dimaksud dengan sistem pengelolaan SDA berbasis komunitas? Dan apa saja keuntungan yang diperoleh dari sistem tersebut? Untuk mengulasnya, Hutami Pudya dari Jurnal Bogor berkesempatan mewawancarainya, kemarin. Berikut petikannya.

Bisa dibilang Anda merupakan salah satu pengusaha sukses di Bogor. Bagaimana kiat Anda untuk mencapai kesuksesan tersebut?
Dalam mengelola beberapa usaha, saya mengandalkan satu modal, yakni kepercayaan. Jika kita sudah membangun kepercayaan, kita akan mudah dalam melangkah. Saya ambil contoh adalah usaha saya dibidang percetakan, yaitu Kippy Print Shop. Sejujurnya saya tidak memiliki modal yang besar untuk memulai usaha tersebut. Namun, hal itu tak lantas membuat saya patah arang. Saya pun mencari cara agar usaha saya dapat berjalan dan berkembang dengan baik. Untungnya saya memiliki teman banyak. Saya pun meminta bantuan mereka. Saat itu saya hanya bermodalkan ide, sedangkan modal uang dan alat saya tak punya. Maka dari itu saya meminta bantuan teman. Saya mengajak mereka untuk bekerjasama. Saya berusaha membangun kepercayaan kepada mereka dan meyakinkan mereka bahwa usaha yang akan dibangun memiliki prospek yang baik. Akhirnya, saya pun mampu mengajak mereka kerja sama. Hasilnya, usaha tersebut dapat berjalan dan berkembang hingga kini.

Apa saja perusahaan yang Anda pimpin dan Anda kelola saat ini?
Saat ini saya dipercaya menjabat sebagai Direktur Utama Kippy Print Shop, perusahaan yang bergerak di bidang desain grafis dan percetakan. Kemudian saya juga menjabat sebagai Manajer Kedai Telapak, yang merupakan usaha dibidang restauran atau rumah makan. Selain itu, saat ini saya juga memiliki usaha minuman Tirta’s Berry yang akan saya upayakan menjadi bisnis waralaba namun lebih kepada pola kerja sama. Jadi tidak terlalu ribet seperti waralaba yang lain. Saya juga dipercaya menjadi Direktur Utama PT. Poros Nusantara Utama, perusahaan yang bergerak di bidang pemanfaatan dan pengelolaan SDA di Indonesia.

Dapatkah Anda menjelaskan tentang bidang usaha PT. Posros Nusantara Utama?
Pemanfaatan dan pengelolaan SDA yang dilakukan oleh PT. Poros Nusantara Utama adalah berbasis komunitas. Maksud dari pengelolaan SDA berbasis komunitas adalah kita melakukan kerja sama dengan masyarakat yang tinggal di daerah yang akan kita olah SDAnya. Jadi PT. Poros Nusantara Utama dengan masyarakat terjun bersama mengelola SDA yang terkandung di daerah tersebut. Sehingga tidak perusahaannya saja yang diuntungkan, tetapi masyarakatnya pun ikut merasakan.

Mengapa PT. Poros Nusantara Utama bergerak dalam bidang pengelolaan SDA berbasis komunitas?
Kami bergerak dalam bidang pengelolaan SDA berbasis komunitas lantaran keprihatinan kami jika terdapat perusahaan yang mengelola SDA, tetapi warga di sekitarnya hidup sengsara. Sengsara yang dimaksud bisa disebabkan oleh perusahaan terlalu menguasai SDA di daerah tersebut sehingga masyarakatnya sendiri tidak kebagian. Walaupun kebagian, hanya kebagian sedikit. Bahkan banyak kasus terjadi, perusahaan yang bergerak dalam pengelolaan SDA terlalu fokus dalam mengeruk keuntungan sehingga mereka tak memikirkan dampak lingkungan yang ditimbulkan. Akibatnya, masyarakatnya pun yang dirugikan. Hanya memeroleh keuntungan sedikit, namun mereka juga yang menanggung bencana yang ditimbulkan. Gambaran sederhananya begini, ada sebuah perusahaan yang bergerak dalam pemanfaatan kayu. Perusahaan itu membabi buta dalam penebangan hutan. Pekerja yang bertugas menebangi pohon pun dari masyarakat sekitar, gajinya pun tak seberapa. Namun, ketika bencana banjir dan tanah longsor datang, masyarakat sekitarlah yang kena. Tidak imbang bukan dengan pendapatannya di perusahaannya tersebut. Perusahannya makmur, masyarakatnya sengsara. Saya tidak mau hal itu terjadi di perusahaan kami.

Lantas, apa saja yang telah dilakukan PT. Poros Nusantara Utama pada saat ini?
Banyak hal yang telah kami lakukan dalam pemanfaatan SDA. Di Bali, kami tengah membudidayakan ikan hias serta terumbu karang. Kami tidak menggunakan alat-alat berbahaya dalam menangkap ikan hias tersebut. Kami menggunakan jaring untuk menangkap ikan hias tersebut. Nantinya, ikan-ikan hias itu akan dijual ke daerah lain, bahkan sampai di ekspor ke luar negeri. Tidak hanya ikan, terumbu karang pun kami jual, tetapi kami tak lupa untuk melakukan regenerasi terumbu karang dan ikan-ikan hias, sehingga keseimbangan ekosistem tetap terjaga dan SDA pun masih ada. Untuk memaksimalkan budidaya tersebut, kami bekerja sama dengan Florida. Kami pun tengah mengekspor kumis kucing ke luar negeri. Kami juga mengelola kayu jati. Kayu jati yang kami kelola bersifat ramah lingkungan. Maksudnya adalah kayu yang dalam pengelolaanya turut melestarikan lingkungan. Harganya bisa dua sampai lima kali lipat lebih mahal daripada kayu yang tidak ramah lingkungan.

Apa saja manfaat yang diperoleh oleh masyarakat dari sistem usaha yang diterapkan oleh PT. Poros Nusantara Utama?
Manfaat paling utama yang diperoleh oleh masyarakat dari sistem pengelolaan SDA berbasis komunitas adalah masyarakat ikut diuntungkan, baik dari materil maupun non materil. Ingat, pengusaha yang mendirikan perusahaan di suatu daerah yang memiliki potensi SDA, hanya menumpang di daerah tersebut. Jadi mereka harus tahu diri. Jangan hanya memikirkan keuntungan perusahaan tetapi pikirkan juga kesejahteraan masyarakat sekitar dan dampak lingkungan yang akan ditimbulkan. Kemudian cari cara untuk menghindari dampak buruk tersebut. Dengan pengelolaan SDA berbasis komunitas, masyarakatnya pun akan tetap merasakan ekosistem yang seimbang sehingga bencana alam pun dapat dihindari.

Bagaimana upaya yang dilakukan agar masyarakat mau diajak kerjasama menjalankan pengelolaan SDA berbasis komunitas?
Seperti tadi yang sudah saya ungkapkan, dalam menjalankan sebuah usaha, harus menanam kepercayaan terlebih dahulu. Begitu pula yang saya lakukan di PT. Poros Nusantara Utama. Saya mensugesti masyarakatnya bahwa sistem yang akan kami terapkan akan mendatangkan banyak keuntungan kepada mereka. Kami juga menekankan kepada mereka bahwa perusahaan kami senantiasa menjaga keseimbangan ekosistem. Jadi masyarakatnya pun diajak untuk menjaga lingkungan sekitar. Kalau mereka sudah menaruh kepercayaan kepada kami, dan kami pun menaruh kepercayaan kepada mereka, maka semuanya akan berjalan dengan baik.

Apa cita-cita Anda waktu kecil? Apakah sudah berniat ingin menjadi pengusaha?
Cita-cita saya waktu kecil bukan ingin menjadi apa, misalnya menjadi dokter, guru, arsitek, dan pengusaha sekalipun. Dulu cita-cita saya sederhana, yakni ingin melakukan sesuatu yang berguna untuk orang lain. Itulah yang mendorong saya berada di level sekarang. Saya selalu berusaha melakukan sesuatu yang berguna bagi diri saya sendiri dan orang lain. Saya pun selalu membangun relasi pertemanan kepada siapa saja, kepada pengusaha lain, guru, dosen, pedagang kaki lima, pemulung, wartawan, pokoknya saya senang berkawan.

Apa harapan Anda?
Harapan saya tentunya apa yang saya jalani sekarang diberi kemudahan oleh Tuhan. Selain itu, saya juga berharap tidak ada lagi kasus perusahaan pengelola SDA atau perusahaan yang bergerak di bidang apapun menyengsarakan masyarakat sekitarnya dan jangan merusak lingkungan. Ajaklah mereka bekerja sama dalam pengelolaan SDA dan menjaga lingkungan.

Sumber=
http://www.jurnalbogor.com/?p=15598

Selengkapnya ...