Kamis, 28 Februari 2013

Pelan tapi pasti BT Jabagbar yakin akan membawa perubahan.



Berawal dari penguatan media lokal di Bogor www. kotahujan.com. Pengurus BT Jabagbar memulai kerjanya demi mengapai amanah Gerpak paska mubes Kulon Progo Jogjakarta . Tanggal 27 Februari 2013 pengurus dan anggota BT melakukan rapat koordinasi terkait penguatan media lokal kota hujan.com. pada rapat tersebut pengurus dan anggota telapak Jabgabar mulai memikirkan cara bagaimana kotahujan.com kembali aktif setelah lama tidak update pemberitaannya, paskah tidak adanya pengurus di media lokal itu. Ketua BT dan jajarannya kembali akan memikirkan langkah-langkah supaya media kohu tetap bisa eksis, walaupun tampa alat apapun. Pelan tapi pasti lah yang bisa menjawab bagaimana kotahujan .com akan eksis lagi di dunia pemberitaan di wilayah kerja Badan Teritorial Telapak Jawa Bagian Barat. Paska mangkatnya Almarhum Hapsoro T002 sebagai ketua BT, media ini terbengkalai tampa ada yang memikirkan, kata orang. Padahal pada kenyataannya tidak, seperti pemberitaan di kalayak umum. Ketua BT Jabagbar pengganti “Een Irawan T238” dan pengurus lainnya berusaha memikirkan supaya media lokal ini terus eksis di dunia pemberitaan. Walaupun tampa di bekali alat, media ini akan di upayakan berjalan sesuai ranahnya. walaupun pengadaan alat untuk jurnalisnya dihasilkan dari patungan anggota telapak BT Jabagbar.  Pelan tapi pastilah harapan pengurus BT demi media lokal tersebut.
Een Irawan Putra T238 pada massa jabatan almarhum Hapsoro sebagai ketua BT adalah deputi BT Jabagbar, paska mangkat nya Hapsoro, anggota memilih ketua BT baru di sekertariat BT Jabagbar di Jl. sempur kaler 62. Setelah pertemuan tersebut Eenlah ketua BT terpilih untuk Jabagbar. Berawal dari 27 Februari 2013 kemarin rapat BT di pimpinya yang pertama, kota hujan prioritas utama sebagai media lokal untuk pemberitaan kegiatan program kerja BT Jabagbar dan PAUD Telapak 001. Tumpuhan harapan program kerja BT berharap bisa di beritakann di media lokal ini.
Goodluck   yaaa Een semoga Een dan pegurus BT Jabagbar lainya bisa menjalankan tugasnya sebagai ketua BT dan bisa menjalankan semua peninggalan Almarhum Kumendan Kita Hapsoro T002 yang telah  menitipkan secercah oret-oretannya demi Jabagbar yang lebih baik.
Saya yakin sebagai anggota dan ketua BT telapak Jawa Bagian Barat Een dan pegurus lainnya bisa membawa perubahan walaupun pelan, yang penting kita harus kosisten.   

Salam dari T116 demi BT Jabagbar yang harus bisa membawa perubahan lebih baik.

Selengkapnya ...

Senin, 15 Oktober 2012

Apa kabar Tapos? (bagian 2 - habis)

Ini adalah cerita sambungan dari posting terdahulu.

Cukup banyak yang terjadi tentunya di Kampung Tapos ini.  Bayangkan saja rentang waktunya dari tahun 1996 hingga tahun 2012.  Tentu tak cukup sebuah posting untuk menceritakan apa yang terjadi dalam waktu 16 tahun.  Untuk mempersingkat posting ini, saya hanya akan mengabarkan situasi terbaru di sana.

Dalam gambaran sepintas, situasi Tapos rasanya tak jauh berbeda dengan situasi 16 tahun lalu.  Warga kampung yang merasa miskin atau memang benar-benar miskin masih ada.  Mereka juga masih hidup sebagai “petani tanggung”.  Maksud saya berprofesi sebagai petani, namun tidak cukup berdaulat terhadap sarana penunjang produksi pertanian seperti lahan pertanian.  Sebagian besar lahan garapan dimiliki oleh “orang-orang kota”.  Saya harap Anda tidak bertanya tentang konflik sosial yang terjadi, karena saya merasa belum cukup paham dan punya pengalaman di bidang sosial maupun budaya.  Mungkin saja ada masalah itu, namun saya tak berani berkomentar .... hehehe, takut salah.

Dari penuturan seorang sahabat yang tinggal di Tapos, saya banyak mendengar tentang permasalahan yang muncul saat ini.  Namun setidaknya saya hanya mampu menangkap beberapa hal saja.  Itupun saya rasa tidak terlalu lengkap dan dalam informasinya.  Beberapa hal itu adalah ...


Beberapa tahun terakhir, telah berdiri sebuah sekolah informal di Tapos.  Bentuknya adalah pendidikan anak usia dini, atau biasa disebut PAUD.  Pendirian sekolah ini dimotori oleh Telapak.  Sayangnya kini kondisinya tak cukup baik, bahkan bisa disebut tidak berkembang.  Para pengajarnya, yang direkrut dari orang asli Tapos mengeluh kesulitan dalam mengembangkannya.  Bahkan, sembari bergurau salah seorang pengajarnya menyebut kata “kondisinya memprihatinkan”.  Walau saya tak sempat mencari tahu lebih dalam maksud dari kata itu, namun yang tersirat di benak saya adalah mereka butuh teman dan butuh bantuan.  Teman seperti apa dan bantuan seperti apa, tentu harus dicari tahu lebih dalam.

Di kampung ini pernah berdiri sebuah kelompok tani yang cukup masyhur namanya di seantero Kecamatan Cijeruk.  Namanya Kelompok Tani Lindung Harapan.  Sayangnya kini kelompok tersebut terkesan hidup enggan mati tak hendak.  Semoga saya salah duga, karena yang terlihat dari kelompok ini hanya tinggal papan nama saja.

Saya mendapat kabar bahwa warga Tapos saat ini juga mengalami masalah dengan ketersediaan air.  Bahkan sempat terjadi beberapa kali perseteruan antar warga soal pembagian air dari bak penampungan.  Saya menduga hal ini terjadi karena kemarau panjang yang melanda akhir2 ini.  Namun saya mendengar cerita tentang meningkatnya aktivitas penambangan pasir di anak2 sungai.  Saya juga mendengar kabar munculnya para pebisnis air minum di Desa Sukaharja dan sekitarnya.  Jangan2 aktivitas mereka2 itu juga berpengaruh pada minimnya ketersediaan air di Tapos.

Demikian beberapa kilas cerita pandangan mata dan cerita teman tentang Kabar Kampung Tapos.  Semoga saja cerita ini tidak hanya jadi bacaan sepintas, namun bisa mengilhami sebuah keinginan yang kemudian menjadi tindakan nyata untuk membantu warga Tapos. Amiiin ...

Selengkapnya ...

Jumat, 12 Oktober 2012

Apa kabar Tapos? (bagian 1)

Saya harap membaca nama “Tapos” tak lantas menggiring Anda semua pada peternakan sapi milik keluarga Cendana.  Tapos yang ini berbeda jauh letaknya, walau masih dalam satu wilayah Kabupaten Bogor.

Seperti yang tertera di judul, sebenarnya saya juga punya pertanyaan yang sama.  Rasanya sudah cukup lama saya (secara pribadi) tak pernah berkunjung ke tempat ini lagi.  Padahal kalau diingat-ingat kampung kecil di kaki Gunung Salak ini memiliki arti tersendiri bagi bagi organisasi maupun saya sendiri.  Kampung ini berada di sebuah desa, yaitu di Desa Sukaharja, Kecamatan Cijeruk.


Cukup banyak kejadian dan kegiatan penting Telapak terjadi di kampung ini sejak tahun 1996.  Dua tahun kemudian keluarga saya pun berkenalan dengan Kampung Tapos, saat beberapa orang warga Tapos hadir di pernikahan saya dengan membawa bingkisan pisang dan hasil bumi.

Selain dekat secara emosional, kampung ini pun tidak jauh jangkauannya dari Bogor.  Bila ditarik garis lurus di atas peta, maka jaraknya dari Bogor hanya sekitar 12 km saja.  Bila kita menggunakan kendaraan umum, maka Tapos dapat ditempuh dalam waktu (paling lama 2 jam) dari pusat Kota Bogor.  Begitu mudahnya hingga saya lebih menyukai menggunakan sepeda motor untuk mencapai Tapos.

Secara kebetulan saya mampu memaksa diri dan meluangkan waktu di sela kesibukan kerja untuk (kembali) berkunjung ke Tapos.  Pada saat yang sama, seorang teman ternyata juga memiliki keinginan untuk berkunjung ke Tapos.  Klop sudah ... kami berdua kembali datang ke Tapos pada hari Kamis, 11 Oktober 2012.  Sayangnya kami berdua tak memiliki kemewahan waktu untuk bisa berlama-lama di kampung ini.  Datang di pagi hari dan selepas adzan dzuhur kami pun meluncur pulang ke tempat kerja masing-masing di Bogor.

Lalu apa yang terjadi dengan Kampung Tapos sekarang ini?

Sabar bos ... ojo kesusu
[kalau kata orang Jawa].  Ceritanya saya sengaja simpan untuk posting selanjutnya yaa ....  


[BERSAMBUNG]

Selengkapnya ...

Rabu, 10 Oktober 2012

Anda bingung dengan sampah? Celengan Sampah solusinya


Para pembaca yang budiman di mana pun anda berada,

Kalau anda kesulitan membuang sampah anorganik yang dihasilkan dari rumah, anda bisa melakukan sebuah inisiatif bikin celengan sampah seperti yang saya lakukan saat ini.

Saya membuat celengan sampah bersama teman, kerabat dan saudara-saudara saya para anggota Telapak di wilayah Jawa Bagian Barat. Inisiatif ini timbul karena saya merasa prihatin dengan lingkungan tempat saya tinggal.  Sampah semakin hari semakin banyak.  Tumpukan sampah berserakan hingga akhirnya mengotori sungai-sungai. Dari keadaan ini lalu timbul pertanyaan di benak saya sendiri.

Apakah memang masyarakat di sekitar saya kesusahan membuang sampahnya?
Atau mungkin pemerintahnya yang kurang peduli atau bahkan memang ini jadi budaya masa kini warga di sekitar saya?

Pertanyaan-tersebut telah mengetuk hati saya.  Paling tidak saya harus bisa berbuat sesuatu ... entah apa bentuknya ... untuk mengatasi permasalahan sampah di sekitar saya tinggal.

Dulu waktu saya masih tinggal di Jawa Timur, waktu saya masih kecil, saya punya pengalaman menarik.  Dulu saya sempat hidup dari pekerjaan yang berhubungan dengan sampah.  Saya memulung sampah untuk dapat uang jajan dan uang sekolah.  Saya memang jadi pemulung waktu itu.

Dari pengalaman saya itu, saya melihat nilai ekonomi yang dihasilkan dari sampah ternyata lumayan.  Saya bisa dapat uang dari sampah.  Dan ini merupakan kebangaan bagi saya atau mungkin bagi teman, kerabat dan saudara-saudara saya yang lain yang bergelut di bidang persampahan.

Kini, rasanya tak ada salahnya kalau saya juga cobakan pengalaman dari Jawa Timur itu dalam bentuk yang mirip.  Mirip karena kali ini saya bikin sebuah wadah untuk mengumpulkan sampah-sampah anorganik.  Saya menyebutnya Celengan Sampah atau (mungkin) Bank Sampah.  Sampahnya saya kumpulkan dari teman, kerabat dan saudara-saudara saya. Daripada sampah dibuang sembarangan kan lebih baik dimanfaatkan. Tak hanya uang yang kita hasilkan, tapi lingkungan kita pun juga jadi bersih dari sampah.

Celengan Sampah ini hanya inisiatif saya pribadi.  Tapi tentu juga bisa diujicobakan oleh para pembaca yang budiman. Kalau anda berminat bergabung atau pengen ujicoba di tempat anda, saya siap membantu anda-anda sekalian.

Masih bingung dengan sampah anda? Mari kita sama-sama ujicobakan inisiatif Celengan Sampah atau (mungkin) bisa juga disebut Bank Sampah.  Insya Allah lebih banyak manfaatnya dari pada mudoratnya.

Bingung mau digimanakan setelah terkumpul? Jual aja di lapak pemulung atau di tempat para pengelola sampah di sekitar anda.

Selengkapnya ...