Menurut saya, mungkin Pemerintah Kota Bogor tergolong maju. Betapa tidak, pengelolaan lingkungan hidup mendapat porsi khusus dalam bentuk Peraturan Daerah (Perda). Pemkot Bogor bahkan makin sigap di bidang lingkungan hidup. Tak sampai 5 tahun Perda pengelolaan lingkungan hidup itu berjalan, kini telah ada revisinya. Draft revisinya telah diselesaikan dan kini sedang digodok oleh para anggota dewan yg terhormat. Dan untuk membuat prosesnya transparan dan melibatkan banyak pihak, maka draft revisi tersebut pun dikonsultasikan dengan sejumlah perwakilan warga dan kalangan pengusaha.
Di awal bulan September 2011, seorang kawan lama mendaftarkan nama saya untuk hadir dalam acara Rapat Dengar Pendapat Umum tentang revisi Perda Pengelolaan Lingkungan Hidup Kota Bogor. Sebuah acara resmi bersama para anggota DPR Kota Bogor yang tergabung di panitia khusus.
Merasa kurang ‘pede’, saya mengajak serta teman sejawat di KPC Bogor dan pemimpin Telapak untuk wilayah Jawa Bagian Barat. Bersama mereka saya berharap dapat mendongkrak rasa ‘pede’. Apalagi banyak pihak yang juga diundang dalam acara ini seperti aktivis mahasiswa dari KAMMI Bogor, KNPI Bogor, satu2nya pabrik tekstil besar di Kota Bogor (Unitex), Asosiasi Perhotelan dan Restoran Indonesia (PHRI) Bogor, RS PMI Bogor, RS Karya Bhakti Bogor, pabrik ban besar (Goodyear), sebuah kelompok yang menamakan dirinya LSM Landscape dan sejumlah undangan lain yang saya tidak kenal. Mereka semua tampak mewakili kepentingan warga Bogor dan juga para pengusaha maupun (juga mungkin) partai politik dan ormas Bogor. Mereka semua orang hebat, pikir saya.
Sekalipun kurang beruntung saat menerima undangan, ternyata saya masih cukup ‘pede’ dalam perbincangan resmi ini. Suasana rapat resmi ini terasa mirip dengan pertemuan di tingkat kelurahan ataupun kecamatan. Tak ada tanya jawab, yang ada hanya orang berkomentar dan kemudian para anggota dewan (terlihat) mencatatnya. Para peserta berkomentar banyak hal, diantaranya tentang tata urutan perundangan, bagaimana perda diawasi pelaksanaannya, kewajiban instalasi pengelolaan air limbah (IPAL) yang tak digubris, alih fungsi lahan seenak perut, pelanggaran rencana tata ruang wilayah (RTRW), pencemaran oli dari maraknya bengkel2 sepeda motor, dan limbah peternakan ayam.
Saya mencoba memahami lebih dalam tentang komentar dan protes para peserta, juga isi dokumen Perda beserta revisinya. Aturan pemerintah ini masih saja terkesan hebat dan nyaris tanpa cela. Segala hal yang berkenaan dengan air tanah, sarana transportasi, konservasi keanekaragaman hayati, limbah, sampah dan kebisingan diatur oleh Perda No.4 Tahun 2007 beserta revisinya. Perda tsb juga mengatur secara khusus tentang pencemaran udara dari asap rokok. Tanpa melihat apa yang terjadi sesungguhnya di Kota Bogor, rasa2nya Perda ini pasti lah akan menjadi acuan bagi terciptanya kota yang tertib, segar, bersih, indah, aman dan nyaman alias “tegar beriman”, sesuai motto-nya.
Dalam upaya memahami aturan yang super hebat ini, ternyata saya tidak menemukan aturan yang bernuansa perlindungan sungai. Lhoo koq???
Ternyata Perda super ini cenderung melihat hal2 yang njlimet dan detil. Sayangnya kompleksitas tsb seakan melupakan hal sederhana yang terlihat kasat mata. Bogor adalah mungkin satu2nya kota di Jawa Barat yang memiliki 2 aliran sungai besar, yaitu Ciliwung dan Cisadane. Nama kedua sungai itu tak hanya dikenal di tanah Sunda, namun hingga seluruh Indonesia. Rasanya cukup banyak warga Bogor yang tahu betul bahwa kedua sungai besar tersebut dalam kondisi yang memprihatinkan. Dan itu artinya benar2 merupakan kerusakan lingkungan. Tapi mengapa justru di Perda super hebat tsb tak ditemukan satu pasal pun yang mencoba menyinggungnya?
Pikiran saya mendadak jadi kacau. Saya merasa bingung sendiri sebagai warga Bogor. Perda yang sedemikian hebat ternyata cenderung melupakan hal2 yang nyata dan benar2 terjadi di Kota Bogor. Entah lah ... rasanya saya butuh minum kopi dan beristirahat sejenak agar tidak benar2 pusing. Lalu melintas dalam benak saya sebuah peribahasa lawas ...
“Kuman di seberang lautan tampak, gajah di pelupuk mata tak nampak”
Tampilkan postingan dengan label Ciliwung. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ciliwung. Tampilkan semua postingan
Jumat, 30 September 2011
Perda Lingkungan tak urus lingkungan sungai
Tags:
Bogor,
Ciliwung,
lingkungan,
PERDA,
Sungai Cisadane
Minggu, 13 Maret 2011
Memperingati 2 Tahun KPC Bogor
Bantaran Ciliwung, Sabtu 12 Maret 2011
Mulung-mulung lagi dan tetap mulung... itulah tradisi dari sekelompok kecil bernama Komunitas Peduli Ciliwung Bogor alias KPC Bogor. Dua tahun sudah KPC eksis di Ciliwung, meskipun masih "bayi", tapi dia cukup terkenal di dunia persilatan. Berbeda dengan perayaan sebelumnya, HUT kali ini jauh dari hingar bingar keramaian orang. HUT II KPC lebih menekankan nilai dan rasa kebersamaan antar anggota, sebagai bagian dari refleksi diri untuk menatap hari esok yang lebih baik.
Ragam kegiatan HUT KCP II sengaja dibuat untuk menciptakan kemeriahan dan kekerabatan antar anggota KPC Bogor. Dimulai dari mulung sampah, lomba mengumpulkan biota sungai, makan tumpeng, tanam pohon, mancing ikan, testimoni, dan canda gurau ikut mewarnai kecerian ini. Sederhana tapi bermakna, itulah kesan yang terasa...!!
Dalam sebuah testimoni, sebuah janji kembali terucap dari hati sanubari sang laskar karung, harapan tinggi pun di junjung untuk bisa merasakan kebersamaan di tahun berikutnya (dibaca HUT III). Sudah sepatutnya rasa bangga ini kita terus miliki, karena tidak banyak dari komunitas manusia yang mempunyai rasa untuk tetap peduli terhadap alam dan lingkungan khususnya sungai Ciliwung.
Selamat Hari Jadi KPC Bogor II , mari kita terus jaga dan lestarikan Sungai Ciliwung. :) Selengkapnya ...
Mulung-mulung lagi dan tetap mulung... itulah tradisi dari sekelompok kecil bernama Komunitas Peduli Ciliwung Bogor alias KPC Bogor. Dua tahun sudah KPC eksis di Ciliwung, meskipun masih "bayi", tapi dia cukup terkenal di dunia persilatan. Berbeda dengan perayaan sebelumnya, HUT kali ini jauh dari hingar bingar keramaian orang. HUT II KPC lebih menekankan nilai dan rasa kebersamaan antar anggota, sebagai bagian dari refleksi diri untuk menatap hari esok yang lebih baik.
Ragam kegiatan HUT KCP II sengaja dibuat untuk menciptakan kemeriahan dan kekerabatan antar anggota KPC Bogor. Dimulai dari mulung sampah, lomba mengumpulkan biota sungai, makan tumpeng, tanam pohon, mancing ikan, testimoni, dan canda gurau ikut mewarnai kecerian ini. Sederhana tapi bermakna, itulah kesan yang terasa...!!
Dalam sebuah testimoni, sebuah janji kembali terucap dari hati sanubari sang laskar karung, harapan tinggi pun di junjung untuk bisa merasakan kebersamaan di tahun berikutnya (dibaca HUT III). Sudah sepatutnya rasa bangga ini kita terus miliki, karena tidak banyak dari komunitas manusia yang mempunyai rasa untuk tetap peduli terhadap alam dan lingkungan khususnya sungai Ciliwung.
Selamat Hari Jadi KPC Bogor II , mari kita terus jaga dan lestarikan Sungai Ciliwung. :) Selengkapnya ...
Kamis, 26 Agustus 2010
Tak nampak gajah di Ciliwung
Sebuah SMS saya terima malam itu. Jarum jam di arloji saya menunjukkan pukul 22.02 WIB. Siapa gerangan yang mengirimkan SMS malam2 begini? Biasanya gelagat seperti ini terjadi bila pesan yang dikirimkan adalah pesan dalam kategori “penting”. Pesan SMS itu dating dari teman kita Kang Hendra. Isi pesannya cukup singkat, tidak sampai 5 baris pada layar handphone saya.
“Siaga satu ccliwung bnjir besar” … hanya ituSontak saya pun segera menghubungi Kang Hendra. Tak cukup jika saya hanya membalas pesan tersebut dengan SMS. Saya harus berbicara langsung. Ada rasa was-was, karena beberapa menit sebelumnya istri saya mengabarkan tentang hujan super deras yang mengguyur Bogor. Sementara saya masih berada di Jakarta. Saya jadi khawatir kejadiannya sama dengan beberapa bulan lalu. Saat tepian Ciliwung di Bogor luluh lantak disapu habis oleh amukan air bah Ciliwung.
“Jadi gimana ceritanya Kang? Pada kerendem air, kebawa air, longsor atau gimana?” saya bertanya bertubi2 pada Kang Hendra. Kang Hendra yang tinggal di Lebak Kantin, tepian Sungai Ciliwung hanya bertutur luapan air sudah hampir merendam kampungnya. Air sudah setinggi betis orang dewasa. Masyarakat kampung sudah bersiap2 untuk mengungsi.
Saya pun akhirnya segera menghubungi teman2 lain utk mengecek langsung berita ini ke lokasi kejadian di Lebak Kantin. Syukurlah teman2 Kotahujan.com dengan sigap langsung berada di lokasi. Selain meliput kejadian, teman2 itu juga mengabarkan perkembangan situasi secara rutin. Sementara saya yang masih di Jakarta juga menghubungi teman2 relawan bencana banjir. Ini adalah hal yg serupa spt yang saya lakukan saat Ciliwung mengamuk beberapa bulan lalu. Kabar ini saya harap dapat membantu teman2 relawan di Depok dan Jakarta utk bersiap2 menerima banjir kiriman dari Bogor.
Untungnya kejadian Ciliwung meluap ini tidak berlangsung lama. Sebelum malam berakhir, air sungai sudah surut kembali.
Hari ini, saya kembali mengingat kejadian itu. Banjir Ciliwung rasanya cukup sering terjadi. Namun selalu saja kejadian ini tak pernah membekas menjadi sebuah upaya utk mengantisipasinya. Pada umumnya kesiagaan hanya dilakukan saat menjelang bencana atau saat bencana. Bentuknya adalah reaksi pertolongan atas korban banjir, reaksi komunikasi dan koordinasi pertolongan cepat antar wilayah, dan liputan pemberitaan.
Saya nyaris tidak pernah menjumpai adanya upaya serius dari semua orang untuk mengantisipasi terjadinya banjir. Tidak dari Pemerintah, tidak dari warganya, tidak pula dari kelompok2 ataupun organisasi masyarakat. Padahal hampir semua orang saya paham betul banjir di Ciliwung diakibatkan karena rusaknya tata air di wilayah hulu, tumpukan sampah, dan tentu saja karena badan sungai telah berubah menjadi bangunan.Saya jadi makin miris dengan begitu terkenalnya Bogor sebagai kota ilmu pengetahuan, kota berwawasan lingkungan, dan kota aktivis lingkungan. Kemana itu semua? Apakah sungai bukan bagian dari lingkungan? Apakah lingkungan di Bogor sudah tidak lagi bermasalah? Atau jangan2 mereka juga tak tahu jika Ciliwung sedang banjir ...
Terngiang di kepala saya sebuah peribahasa "kuman di seberang lautan tampak, gajah di pelupuk mata tak tampak".
illustrasi gajah saya unduh dari laman ini
Selengkapnya ...
Tags:
aktivis,
Aktivitas,
Bogor,
Ciliwung,
Lebak Kantin,
lingkungan
Langganan:
Postingan (Atom)

