Entah sudah berapa kali saya bertukar pikiran dengannya. Entah sudah berapa bungkus rokok dan bergelas-gelas kopi kami habiskan. Semua hanya tentang sebuah wilayah di perbatasan Kabupaten Sukabumi dan Bogor. Wilayah pedesaan di tempat terpencil, di seputar Taman Nasional Halimun-Salak.
Seorang pemuda kampung bernama Kosar datang dengan berkarung-karung mimpi dan harapan untuk melakukan perubahan di Desa Cipeuteuy. Bersama teman-temannya ia membangun sebuah genk anak kampung bernama Absolute. Sebuah nama yang terkesan “keren” untuk sebuah kampung kecil di pinggiran hutan dataran rendah tropis Halimun. Kosar, yang juga dipanggil dengan sebutan “ipank” atau “mad koz” oleh kawan-kawannya ini mulai merangkak pelan membangun desanya. Dari sekedar penyelenggara event peringatan tujuh belas agustus di kampung, Absolute mengembangkan lebih jauh kegiatannya. Mereka mengupayakan usaha ekonomi dalam bentuk usaha pemandu wisata Halimun serta pengembangan pertanian bersama para petani setempat. Sebagai kumpulan anak muda kampung yang “gaul”, Absolute juga membangun sebuah radio sebagai sarana kirim-kirim lagu dan pesan. Di luar dugaan, radio Tatalepa yang mereka bangun kini telah menjadi radio kegemaran orang-orang kampung di sekitar Desa Cipeuteuy. Tak cukup dengan upaya ini, Absolute juga berperan penting dalam upaya “pendidikan politik” (istilah mereka) bagi orang kampung. Mereka telah mendorong terpilihnya teman mereka sendiri dalam pemerintahan desa. Absolute juga membantu masyarakat yang sedang berseteru dengan pihak taman nasional karena tuduhan illegal logging.
Saat Mubes/RAP Telapak 2006 di Bali, Kosar bergabung dengan bersama para penelapak. Sang anak kampung Cipeuteuy kini tak hanya menjadi agen Absolute, namun juga penelapak. Ia pun mendapat setumpuk mandat-mandat tambahan dari organisasi ini. Beberapa teman telapak lalu mulai berdatangan menemaninya di kampung. Sayangnya upaya “menemani” ini kadang tak mampu berjalan secara terus-menerus. Ada sejumlah keterbatasan energi dan waktu. Sementara Kosar sendiri pun harus berjuang secara personal untuk mengamankan kehidupan rumah tangganya. Kosar yang anak kampung sudah menjadi suami dan ayah bagi 2 orang anaknya. Saat itu nama Kosar pun mulai tidak lagi terdengar.
Akhir bulan Februari 2010 namanya kembali muncul. Telapak kembali menyambangi Kosar melalui Mubes/RAP Telapak 2010 di Kampung Citalahab Sentral, kawasan Halimun. Kosar pun dengan semangat 45 menunjukkan diri bahwa ia masih bagian dari organisasi ini. Ia menjadi “orang kunci” dalam kesuksesan penyelenggaran Mubes/RAP Telapak 2010 ini. Ia memastikan segala urusan logistik, perijinan, dan berbagai hal yang melancarkan penyelenggaraan event akbar dua tahunan ini. Tentu saja ia tidak sendiri di sana. Teman-temannya di Absolute dengan sukarela membantunya.
Setelah Mubes/RAP, saya berusaha mengingat kembali teman kita ini. Otak saya mulai memutar video virtual tentang pembicaraan bersama Kosar dan Absolute saat sore dan malam hari di Citalahab. Air deras yang dingin dan batu-batu Sungai Cikaniki menjadi penghias pembicaraan kami. Juga dingin malam dan kesunyian rumah panggung saat semua peserta Mubes/RAP sudah lelap. Dengan susah payah saya berusaha menangkap dan membayangkan kaitan-kaitan antara kegiatan mereka dengan mimpi besar Telapak. Sekali, dua kali ngobrol … tak ada satu pun yang bisa saya simpulkan. Untunglah di kali ketiga kami bertukar pikiran, gambaran itu mulai jelas. Gambaran menuju kedaulatan politik, kemartabatan budaya, dan kemandirian ekonomi di sana.
Salah satu yang lebih tampak jelas adalah inisiatif community logging. Entah kenapa, saya begitu yakin akan pilihan ini. Tapi Kosar dan Absolute memiliki potensi ini. Yang terbayangkan adalah upaya membangun hutan rakyat di sana. Hal ini dapat dimulai dengan mengorganisir para pekebun kayu sengon (Paraserianthes falcataria). Bagi orang setempat jenis pohon kayu ini lebih dikenal dengan sebutan jeungjing. Sementara di bawah tegakannya dapat dikembangkan penanaman berbagai jenis tumbuhan herbal, diantaranya kapol atau kapulaga (Amomum cardomomum). Ini semua bukanlah hal baru bagi masyarakat setempat. Menurut penuturan Kosar dan teman-temannya, masyarakat di Desa Cipeuteuy telah terbiasa menanam jeungjing. Sementara beberapa teman Kosar di Absolute juga telah mencoba menanam kapol, bahkan juga telah menjual hasilnya.
Lalu apa lagi? Ternyata tak perlu berpikir keras mencari jawabnya. Usaha ekowisata yang telah dirintis tak perlu ditinggalkan. Hanya perlu sedikit sentuhan dalam pemasaran usaha ini. Demikian pula halnya dengan radio komunitas Tatalepa. Radio ini perlu segera kembali mengudara, setelah beberapa bulan belakangan rusak tersambar petir. Jika telah mengudara maka Tatalepa dapat berfungsi dalam upaya sosialisasi community logging dan pengembangan ekowisata.
Tapi … ahhh saya sendiri jadi khawatir. Saya khawatir tak mampu membantu sepenuhnya ide-ide ini terlaksana. Saya bukanlah Superman yang punya energi berlebih dan mampu menjadi penolong di setiap waktu. Saya kira keterbatasan ini hanya dapat dihilangkan jika teman-teman lain juga dapat membagi energinya bagi Kosar dan Absolute. Semoga ini bukanlah harapan kosong. Karena penelapak bukanlah Kosar dan saya seorang. Karena Cipeuteuy maupun Halimun berada di wilayah Badan Teritori Jawa Bagian Barat.
Foto pohon sengon diunduh dari laman ini, sementara foto kapulaga diunduh dari laman berikut.
Rabu, 03 Maret 2010
Anak kampung van Cipeuteuy
Selasa, 02 Maret 2010
Mission Accomplished
Berjalan kaki. Sepertinya sudah mulai ditinggalkan orang. Orang biasanya lebih memilih menggunakan kendaraan, sekalipun ada pilihan jalan kaki. Bersusah payah membuang peluh memang tidak lagi populer. “Ngapain jalan, orang ada angkutan koq. Lagian itu kan lewat hutan dan jauh lagi. Capek euy … umur sudah tidak mengijinkan!” begitu biasanya komentar orang saat diajak jalan menembus hutan. Tapi apa memang berjalan kaki itu sesuatu yang tidak berguna dan tidak layak dilakukan? Lucunya umur selalu dijadikan alasan, padahal usianya masih di bawah 50 tahun.
Sudah lah … berjalan kaki memang sebuah pilihan. Maka saya bersama beberapa teman pun akhirnya memutuskan untuk tetap melakukannya. Saya ditemani oleh Ghonjess, Ejhon, Ndaru, dan Pak Pandit. Kami semua jelas sudah tidak muda lagi, bahkan Pak Pandit sudah berusia 50 tahun. Sebenarnya ada seorang teman berinisial BG yang sedari awal menyatakan kesediaan untuk ikut berjalan kaki. Namun, sesaat sebelum perjalanan dimulai, BG membatalkan niatnya dan pergi begitu saja meninggalkan kami dengan ojeg.

Ini adalah perjalanan, yang sebenarnya tidak terlalu jauh. Kata orang jaraknya hanya sekitar 17 km saja. Tapi waktu tempuhnya bisa lumayan lama mengingat jalurnya berada di kawasan Taman Nasional Gunung Halimun – Salak, Jawa Barat. Kami menempuh perjalanan dari Desa Cipeuteuy menuju Kampung Citalahab Sentral. Kampung yang kami tuju adalah sebuah kampung kecil dengan 17 rumah di tepi perkebunan teh Nirmala. Rute ini melintasi beberapa kampung, persawahan, kebun sayuran, hutan hujan tropis dataran rendah khas Jawa Barat, dan terakhir perkebunan teh.
Bagi saya ini adalah rute yang cukup menarik. Banyak hal yang bisa dilihat selama perjalanan. Berjalan kaki di jalan berbatu (makadam) dengan variasi tanjakan dan turunan, jalanan becek, hujan gerimis, udara dingin, matahari sore dan gelapnya malam adalah kelengkapan yang tidak mudah kita dapatkan sehari-hari.
Sekalipun basah, dingin dan berpeluh, jangan kira perjalanan ini adalah perjalanan para petualang yang heroik. Kami berlima berjalan tanpa target waktu. Kami berjalan sambil menikmati suasananya. Kecepatan dan kekuatan fisik bukan hal yang terlalu penting dalam perjalanan kami. Jarak sepanjang kurang dari 20 km itu kami tempuh dalam hitungan sekitar 6 jam. Berangkat sebelum pukul 2 siang dan mengakhirinya menjelang pukul 8 malam. Tapi ini bukan tanpa henti lho … kami beristirahat setiap 2 jam sekali selama 1 jam. Waktu istirahat diisi dengan mencuci muka, berleha-leha, minum kopi, masak-masak, ber-gossip, dan tertawa riang. Semuanya penuh dengan kegembiraan. Terlebih jika membahas betapa kita ternyata “tidak sehebat” dulu lagi.
Mission accomplished, begitulah akhir dari perjalanan ini. Kami berlima akhirnya berhasil menyelesaikan misi jalan kaki ini. Misinya tentu saja tidak muluk2. Misinya hanya sampai di tujuan, badan bugar, kebersamaan, dan tentu saja terapi mata dengan keindahan alam Indonesia. Terlebih perjalanan ini dilakukan sebagai bagian dari upaya kami berlima untuk hadir dalam Musyawarah Besar dan Rapat Anggota Perkumpulan Telapak 2010 yang bertempat di Kampung Citalahab Sentral.
