Tampilkan postingan dengan label sejarah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sejarah. Tampilkan semua postingan

Selasa, 20 Juli 2010

Alun Alun: Jejak Sejarah Kekuasaan



Sejumlah abg berkumpul, berjoget, berjingkrak sekenanya. Menarik perhatian tidak hanya secara visual, alunan irama musik yang keluar dari seperangkat audio dengan volume besar memaksa mata untuk berpaling. Itu suasana di pojokan alun-alun Brebes. Sepeda motor yang kebanyakan sudah dimodifikasi ala free styler diparkir berjejer dekat trotoar yang mereka buat seolah menjadi panggung. ”Disini tempat trek-trekan sepeda motor kalau malem” ucap seorang anak muda ketika minum wedang ronde di angkringan pinggir alun-alun Demak. Di alun-alun Tuban sore itu anak-anak remaja asik bermain bola berlatar megahnya mesjid Agung Tuban, para pengemis hadir diantara para peziarah yang lewat depan Museum Kambang Putih menuju makam sunan Bonang yang terletak tepat di belakang mesjid. Bercampur riuh dengan para orang tua yang sedang menemani anak mereka yang sedang asik memilih aneka mainan yang dijual. Di Semarang, mall dan hotel modern telah menjadi bagian dari komplek alun-alun.

Jika kita menyusuri kota-kota di sepanjang pulau jawa, baik di pantai utara maupun selatan, alun-alun akan selalu menjadi penciri dari pusat-pusat kota yang dilewati. Alun-alun menjadi semacam tempat rekreasi berupa lapangan terbuka yang terdapat di tengah kota. Disekitarnya terdapat gedung pemerintahan, tempat ibadah, pusat pertokoan, museum, klenteng dan juga kadang penjara. Pertanyaan ”Ini pusat kotanya ya” kerab kita dengar dari mereka yang sedang plesir dan menyempatkan diri mampir kongkow disitu. Memang serasa belum sampai pusat kota jikalau belum sampai di alun-alun.

Alun-alun sudah ada sejak era pra kolonial. Bahkan ada yang meyakini sudah ada jauh sebelum era Majapahit. Pada waktu itu areal terbuka tersebut merupakan tempat yang sakral sebagai sarana upacara ritual dan do’a kepada para dewa. Pada era kejayaan kerajaan Jawa dijaman Majapahit hingga Mataram pada abad 13 hingga abad 18, alun-alun merupakan bagian dari kompleks keraton yang menjadi pusat kekuasaan, pusat pemerintahan sekaligus tempat tinggal raja. kompleks ini penuh dengan simbol yang menjadi miniatur dari makrokosmos. Areal keraton menjadi wilayah yang sakral penuh keteraturan baik tingkah laku manusia maupun tata letak bangunannya. Untuk itu pembatas berupa pagar-pun dibangun di sekeliling areal ini untuk memisahkan wilayah yang sakral dan homogen dengan wilayah di luar yang bersifat profan (Handinoto, 2009)

Ditengah alun alun biasanya terdapat dua pohon beringin yang dipagari, biasa disebut "waringin kurung" yang berasal dari suku kata "wri" yang berarti mengetahui dan melihat dan "ngin" yang berarti memikir tindakan atas masa depan yang keduanya menjadi simbol manusia yang arif dan bijaksana. Pohon beringin tersebut melambangkan langit yang berhubungan dengan permukaan tanah, bumi, yang dilambangkan dengan alun-alun yang berbentuk segi empat. Pagar di sekeliling pohon menjadi simbol tugas manusia untuk mengatur kehidupan di bumi. Kesatuan simbol berupa pohon beringin, pagar dan alun-alun bermakna kesatuan dan harmoni manusia dengan universum yang menjadi tugas manusia untuk menjaganya (Pigeaud, 1940:180). selain itu, bangunan sekitar alun alun juga diatur sedemikian rupa sesuai fungsinya dengan mengikuti aturan sesuai dengan arah mata angin.

Sunan Kalijaga yang dipercaya hidup pada era pemerintahan Majapahit, Kesultanan Demak, Kesultanan Pajang hingga awal pemerintahan Mataram juga mewarnai dan meninggalkan jejak pada kompleks alun-alun. Adanya Mesjid di bagian Barat merupakan salah satunya. Dijaman kolonial konsep kraton alun-alun ini ditiru oleh pemerintah kolonial untuk dapat berkuasa. Mereka mengangkat para bupati sebagai perpanjangan kekuasaan atau sebagai " inderect rule" dengan memberi sarana pendopo kabupaten, alun-alun dan juga penjara sebagai bagian dari alat kekuasaan. Hal ini yang membuat banyak pusat kota di kota-kota yang ada di pulau jawa selalu ada alun-alun. Menjadi metode pemerintahan kolonial dalam mengontrol penduduk yang begitu banyak dengan menggunakan pengetahuannya tentang budaya. Mereka mempelajari sejarah dan model kekuasaan yang ada yang kemudian digunakan menjadi praktek kekuasaan yang efektif. Alun-alun sebagai simbol yang sarat nilai budaya dan sakral direduksi menjadi lebih bersifat public space, menjadi city square untuk dapat mempertahankan kekuasaan secara simbolik selama ratusan tahun.

Memang alun-alun menjadi saksi dan menyimpan banyak kisah. Tidak berlebihan kalau ada yang bilang alun-alun adalah jendela-nya pulau Jawa. Karena ia selalu menjadi simbol dan saksi berlangsungnya kekuasaan dari jaman ke jaman dari berbagai peradaban. Ia menyimpan dimensi sejarah kekuasaan yang pernah singgah. Menjadi sumber ilmu tentang evolusi tata nilai, kekuasaan, budaya, perekonomian yang panjang dalam sejarah. Itu berlangsung hingga kini. Alun-alun menjadi pusat modernisasi... menjadi simbol globalisasi.... Menjejalkan aneka warna produk, transaksi seks, gaya hidup dan semua yang dianggap modern.... Kini alun-alun tidak sakral lagi... menjadi aula kesedihan bagi budaya bangsa. Buah dari dosa peradaban. (GJ/Juli '10)


ref.

Handinoto, 2009. Alun-alun sebagai identitas kota Jawa, Dulu dan Sekarang

Pigeaud, Th. G. 1940. De Noorder Aloen-Aloen Te Yogyakarta, dalam majalah Jawa.

Selengkapnya ...

Rabu, 19 Mei 2010

Naseb Bungong Seulanga

Secara sepintas tidak ada yang istimewa dengan tempat ini. Petak-petak air yang luas dibelah oleh sungai kecil dengan pohon bakau dan nipah di tepiannya. Ketika air pasang air menjadi lebih dalam dan begitu juga sebaliknya ketika surut sungai menjadi lebih dangkal sepinggang orang dewasa. Hanya sekitar 2 km dari pantai membuat pasang surut sangat mempengaruhi debit air sungai ini. Menjelang siang hari ketika air dangkal terlihat banyak aktifitas dari orang-orang sekitar yang membuat suasana riuh penuh canda dan tawa... bukan hanya itu...

Dengan berbekal karung dan golok para perempuan terlihat memungut tiram (setidaknya begitulah mereka menyebutnya) di sungai. Sesekali mereka menyelam ke dasar sungai yang tidak terlalu dalam. Menjelang sore ketika air kian pasang mereka pulang berjalan beriring dengan "menyunggi" karung berisi tiram dengan menggunakan kain sarung yang diikat sedemikian rupa di kepala sebagai alas. Sementara terlihat beberapa laki-laki sedang menjala ikan di bagian tengah sungai dan terus bergerak kearah hilir. Meskipun sungai tersebut kecil dan tidak terlalu dalam namun dapat dilalui perahu bermotor berkapasitas kecil yang sesekali menghempaskan ombak ke tepian tanggul sungai...Huhh... rupanya tidak sesederhana kelihatannya.

“dulu dikegelapan malam dari sungai ini sering mendarat perahu-perahu kecil dengan karung-karung yang berisi berbagai jenis senjata” ucap seorang lelaki separuh baya yang sudah lama tinggal di salah satu pondok. “ada jalur internasional melalui Kamboja, India, Afghanistan, Thailand, Philipina dan Malaysia yang diseberangkan ke daerah Peureulak dan Jambo Aye” ucapnya dengan penuh spekulasi tentang perdagangan senjata illegal. Mengingatkanku akan Victor Bout, man who makes war possible, yang tertangkap di Thailand dimana kisahnya difilmkan dalam Lord of War yang dibintangi Nicolas Cage, ditulis jadi buku Merchant of Death–nya Douglas Farah dan Stephen Braun. Kok nyambung dengan dengan cerita antusias si abang tentang kontak senjata yang sering terjadi di tempat tersebut. ... tentu saja... pada situasi konflik senjata, tempat ini menjadi penting untuk diperebutkan melalui pertempuran sengit jika memang benar apa yang dia ceritakan tadi. Pengepungan, mayat di pondok, di lumpur, diantara pohon nipah, tempat si anu tertembak kepalanya, tempat si itu tertangkap, tempat dia meloloskan diri, AK-47, M16, SS-1, GLM, FN, roket, granat, mortir, penculikan, sweeping, bakar, siksa dsb.. dsb... damn.. aku berharap dia bohong... celakanya aku pernah membaca banyak berita tentang kontak senjata yang terjadi di Pidie... di tempat ini .... ketika masa konflik... aku hadir ditempat kejadian sejarah... bener juga Romo Mangun.... logika perang modern memang tidak mengenal perasaan dan alasan-alasan budaya.... tidak seperti jaman dahulu kala... ketika perang masih bersifat seni perang.

Tiang-tiang kayu dengan tinggi sekitar 1 meter terlihat masih kokoh menopang pondok berbentuk panggung berukuran sekitar 3x4 meter. Berdiri di pinggir pepohonan bakau menghadap ke arah hamparan air membuatnya terlihat bersahaja sebagai bangunan yang lebih tinggi. Apalagi ketika matahari sore memantul dari permukaan air berwarna merah keemasan memberi efek silhouette yang mempertegas bentuk orang yang lagi sholat magrib di bagian teras. Pondok tersebut bagian depan memang sengaja dibuat terbuka dengan dinding rendah sehingga membentuk teras disetengah bagian depannya, menjadi shelter yang nyaman di tempat yang begitu panas dan bisa memandang ke berbagai arah. Keberadaan sumber air tawar berupa pancuran air yang terus mengalir dari sumur bor bak oase ditempat yang dikelilingi luapan air asin.. ”Disini mas tempat mereka sering tidur, kadang cuma beberapa orang, tetapi kadang hingga 40-an orang dengan senjata lengkap” ucapnya sambil menunjuk pondok... ditempatnya sedang duduk. “seragamnya sama, cuma bendera diseragam yang membedakan” timpalnya lagi. Tentu tidak sebebas sekarang untuk bisa duduk-duduk apalagi tidur di pondok ini...

Nuansa keharmonisan yang tertangkap indah oleh mata saat pergantian dari siang ke malam seolah ingin menutupi kisah-kisah mencekam tentang keberadaan pondok tersebut pada saat konflik. Sulit untuk membayangkan bahwa tempat ini menjadi salah satu zona perebutan dimana pelor dihamburkan dari moncong senapan yang sebagian darinya menembus kulit dan daging merenggut nyawa siapa saja pemilik tubuh. “Sejujurnya saya sudah malas cerita tentang masa konflik” ucap seorang guru. Meskipun dia terus bercerita hingga larut malam kalau tidak mau disebut curhat. ”Waktu itu kami terjepit dan serba salah” ucapnya. Kadang karena memberi sebatang rokok badan bisa tersiksa hingga nyawa melayang. Ya begitulah, kaum bersenjata dari pihak manapun selalu membawa situasi yang memilukan bagi masyarakat bawah.

Selengkapnya ...